ADVERTISEMENT

Jumat, 03 Des 2021 14:18 WIB

Menerka Masuknya Omicron ke RI saat Malaysia-Singapura Catat Kasus Pertama

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Singapura kembali memperketat pembatasan imbas lonjakan jumlah kasus COVID-19 beberapa hari terakhir. Padahal hampir 3 minggu Singapura membuka roadmap hidup berdampingan dengan COVID-19. Foto: Getty Images/Ore Huiying
Jakarta -

Varian Omicron di Indonesia tampaknya semakin dekat usai Malaysia dan Singapura mencatat laporan kasus pertamanya pada Jumat (3/12/2021). Bahkan, Malaysia menyebut varian Omicron sebenarnya sudah masuk sejak 19 November, sebelum Afrika Selatan pertama kali melaporkan Corona B.1.1.529 ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Beberapa pakar memang memprediksi Indonesia sudah mencatat setidaknya satu hingga 3 kasus varian Omicron. Namun, Kementerian Kesehatan RI kerap menegaskan hingga kini belum ada varian Omicron yang ditemukan di Tanah Air.

"Hingga kini kita belum mendeteksi ya," tutur Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) dr Siti Nadia Tarmizi kepada detikcom, Jumat (3/12/2021).

Di tengah meluasnya variant of concern (VoC) terbaru dengan penularan lebih cepat, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Profesor Tjandra Yoga Aditama mencoba memberikan beberapa analisis. Salah satunya fakta terbaru soal beberapa negara yang bahkan mengidentifikasi kasus Omicron tanpa riwayat perjalanan ke Afrika Selatan.

"Yang perlu dapat perhatian penting adalah bahwa menurut European CDC maka sudah mulai ada kasus (dari Belgia, Jerman dan Inggris) yang ternyata tidak ada riwayat perjalanan ke Afrika sama sekali dan juga tidak ada riwayat kontak dengan kasus yg melakukan perjalanan," sebut mantan Direktur WHO Asia Tenggara, dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom Jumat (3/12/2021).

"Ini yang tentu perlu dianalisa selanjutnya, untuk menjelaskan tentang kasus impor dan penularan di masyarakat (community transmission)," sambung dia.

Ia kemudian meminta Indonesia sebaiknya mulai menggencarkan pemeriksaan whole genome sequencing dari sejumlah pendatang sejak dua minggu lalu. Sebab, risiko kemungkinan masuknya varian Omicron tetap ada.

"Mungkin akan baik kalau diinformasikan ke publik kita tentang berapa jumlah penumpang pesawat yang sudah diperiksa di negara kita sejauh ini, sejak Omicron mulai dilaporkan di dunia," beber Prof Tjandra berkaca pada banyak negara.

"Walaupun memang sejak 29 November sudah dilakukan penolakan masuk sementara ke wilayah Indonesia bagi orang asing yang pernah tinggal dan/atau mengunjungi daerah terjangkit, tetapi kan bisa saja orang asing itu sudah masuk negara kita tanggal 10 November misalnya, atau 15 November dan lain-lain," sambung dia.

Terlebih kala itu masa karantina masih dipangkas menjadi 3 hari. Hal ini yang kemudian menjadi kekhawatiran varian Omicron sudah masuk Indonesia, tanpa terdeteksi lantaran masa inkubasi COVID-19 bisa bertahan lebih dari dua minggu.

"Maka dapat saja baru belakangan PCR nya positif, seperti sudah terjadi di negara-negara lain. Kalau ternyata memang ada yang PCR positif dan itu akibat varian Omicron maka tentu buruk akibatnya bagi situasi epidemiologi kita," tegasnya, sembari menekankan perlunya peningkatan testing whole genome sequencing.



Simak Video "Dokter Paru Jelaskan Alasan 89% Gejala Omicron Batuk Kering"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT