ADVERTISEMENT

Selasa, 07 Des 2021 08:00 WIB

WHO Tak Rekomendasikan Terapi Plasma Konvalesen untuk COVID-19, Ini Sebabnya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jakarta -

Pada Senin (6/12/2021), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi untuk tidak menggunakan plasma konvalesen dalam mengobati pasien COVID-19. Sebab, penelitian menunjukkan tidak ada peningkatan manfaat pada pasien yang menerima perawatan tersebut.

"Tidak ada manfaat yang jelas untuk hasil kritis seperti kematian dan ventilasi mekanis untuk pasien dengan penyakit ringan, parah, atau kritis. Dan kebutuhan sumber daya yang signifikan dalam hal biaya dan waktu untuk pemberian," tulis pedoman WHO yang dikutip dari CNBC, Selasa (7/12/2021).

Perlu diketahui, terapi plasma konvalesen merupakan prosedur di mana plasma darah orang yang sudah pulih dari COVID-19 diberikan pada pasien yang tengah berperang melawan virus tersebut. Harapannya, antibodi dari pasien pulih itu bisa membantu melawan infeksi.

Selain itu, penelitian juga mengungkapkan prosedur tersebut menghadapi tantangan praktis. Mulai dari menemukan dan menguji donor, mengumpulkan, serta menyimpan dan mengangkut plasma.

Rekomendasi yang dimuat dalam British Medical Journal ini didasari pada 16 uji coba dengan lebih dari 16.000 pasien yang terinfeksi COVID-19, baik yang sakit ringan, parah, dan kritis. Kelompok peneliti tersebut mengatakan penelitian tentang pengobatan harus dilanjutkan dalam uji coba kontrol secara acak.

Selain WHO, National Institute of Health (NIH) pada bulan Agustus lalu mengatakan bahwa plasma konvalesen tidak membantu pasien dalam penelitian terhadap lebih dari 500 pasien COVID-19 dewasa di University of Pittsburgh. Pihak NIH juga mengungkapkan bahwa uji coba itu dihentikan pada Februari lalu karena kurang efektif.

Dalam sebuah penelitian, The New England Journal of Medicine juga menemukan bahwa plasma konvalesen tidak mencegah perkembangan penyakit pada pasien rawat jalan yang berisiko tinggi, bila diberikan satu minggu setelah timbulnya gejala.

Itu juga tidak meningkatkan hasil klinis pada pasien rawat inap di akhir perjalanan penyakit mereka. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa plasma konvalesen memang mengurangi perkembangan penyakit pada orang dewasa yang lebih tua, jika diberikan dalam waktu 72 jam usai timbulnya gejala.

(sao/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT