ADVERTISEMENT

Selasa, 07 Des 2021 15:46 WIB

WHO Tak Sarankan Plasma Konvalesen untuk Pasien Corona, RI Tetap Pakai?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Hospital COVID
Healthcare workers during an intubation procedure to a COVID patient Ilustrasi pasien COVID-19. (Foto: Getty Images/Tempura)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak menyarankan penggunaan terapi plasma konvalesen untuk pasien COVID-19. Alasannya, manfaat dari terapi plasma konvalesen dinilai tidak signifikan.

"Tidak ada manfaat yang jelas untuk hasil kritis seperti kematian dan ventilasi mekanis untuk pasien dengan penyakit ringan, parah, atau kritis. Dan kebutuhan sumber daya yang signifikan dalam hal biaya dan waktu untuk pemberian," tulis pedoman WHO yang dikutip dari CNBC, Selasa (7/12/2021).

Merespons pedoman baru tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi masih menunggu arahan dari para pakar. Khususnya setiap organisasi profesi.

"Kita tunggu masukan organisasi profesi dan rekomendasinya seperti apa ya," beber dr Nadia melalui pesan singkat kepada detikcom Senin (7/12/2021).

Selain terkait efektivitasnya, sebuah studi juga melihat prosedur terapi plasma konvalesen terlalu rumit. Misalnya, mulai dari menemukan dan menguji donor, mengumpulkan, serta menyimpan dan mengangkut plasma.

Rekomendasi ini datang usai sebuah kesimpulan muncul dari studi British Medical Journal pada 16 uji coba dengan lebih dari 16.000 pasien yang terinfeksi COVID-19. Termasuk pasien bergejala baik yang sakit ringan, parah, dan kritis.

Bukan cuma WHO, National Institute of Health (NIH) Agustus lalu lebih dulu meragukan efektivitas terapi plasma konvalesen, usai menganalisis 500 pasien yang menerima. Uji coba akhirnya dihentikan.

Begitu juga dengan riset The New England Journal of Medicine yang menemukan plasma konvalesen tidak mencegah keparahan penyakit pada pasien rawat jalan yang berisiko tinggi, bila diberikan satu minggu setelah timbulnya gejala.



Simak Video "Kasus Harian Covid-19 Jepang Tembus 100.000"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT