Rabu, 08 Des 2021 10:00 WIB

Alasan Ketahanan Corona RI Peringkat 2 Terbawah Dunia Meski Tren Kasus Menurun

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19. Corona di Indonesia. (Foto: PIUS ERLANGGA)
Jakarta -

Di tengah kemunculan varian Omicron, Bloomberg memperbarui tingkat ketahanan negara dalam respons pandemi COVID-19. Survei ini dilakukan terhadap 53 negara di dunia, termasuk Indonesia.

Hasilnya, ternyata Indonesia kini berada di peringkat kedua terendah. Sementara negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, peringkatnya berada di atas Indonesia.

Malaysia berada di posisi ke-50 yang disusul Vietnam di peringkat ke-51. Berbeda dengan Singapura yang posisinya berada jauh di atas Indonesia yaitu di peringkat ke-37.

Berdasarkan data tersebut, negara dengan tingkat ketahanan COVID-19 tertinggi saat ini ditempati oleh Uni Emirat Arab (UEA). Sementara posisi terakhir diduduki oleh Filipina.

UEA berhasil mempertahankan angka kenaikan kasus harian COVID-19 kurang dari 100 kasus sejak pertengahan bulan Oktober. Bahkan kasus kematian akibat COVID-19 di negara itu juga jarang terjadi.

Di peringkat kedua dan ketiga ditempati oleh Chili dan Finlandia. Kedua negara ini mempunyai tingkat vaksinasi yang tinggi dan membuka perbatasan mereka untuk para pengunjung.

Data ketahanan COVID-19 ini dibuat untuk mengukur seberapa efektif sebuah negara dalam menangani pandemi Corona. Ini disusun berdasarkan 12 kategori, di antaranya penahanan virus, kualitas perawatan kesehatan, cakupan vaksinasi, kematian secara keseluruhan, dan perkembangan untuk memulai kembali perjalanan.

Dari data tersebut, Indonesia dan Filipina masih mengalami kekurangan skor dalam hal vaksinasi. Keduanya hanya memberikan kurang dari 100 suntikan vaksin per 100 orang dan tentunya menjadi penghalang utama dari skor mereka.

Selain itu, berdasarkan catatan Bloomberg selama 3 bulan terakhir, CFR Indonesia berada di 6,5 persen sementara Malaysia 1,5 persen. Itu juga menjadi salah satu penyebab peringkat Indonesia kini turun empat posisi ke ranking 52.

Meski begitu, analisis dari Bloomberg per 30 November ini belum melibatkan kekhawatiran atas munculnya varian Omicron. Maka dari itu, mereka memberikan catatan ada kemungkinan risiko masing-masing negara kini bisa berubah usai mencatat Omicron.



Simak Video "Simak! 7 Gejala Awal Terpapar Varian Omicron"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)