Minggu, 12 Des 2021 10:30 WIB

Cerita Penerima Transplantasi Penis Pertama di Dunia, Bisa Kembali Ereksi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
ilustrasi ereksi Foto: iStock
Jakarta -

Seorang pria seperti merasa hidup kembali setelah menjalani transplantasi penis. Akhirnya ia bisa kembali ereksi hingga ejakulasi.

Dikutip dari Daily Star, pria ini mulanya kehilangan penis akibat praktik sunat gagal. Berkat operasi yang dilakukan ahli urologi terkenal Andre van der Merwe, kondisi penisnya kini hampir kembali dalam kondisi normal.

Pasien tersebut berusia 21 tahun, tetapi identitas lengkapnya dirahasiakan. Karena prosedur transplantasi penis pertama di dunia ini berhasil, dr van der Merwe menjadi populer bahkan kerap dipanggil 'dr Dick'.

Dia mengatakan kepada South African Sunday Times, mendapat banyak permintaan dari seseorang yang ingin mendonorkan penis mereka.

"Dia (pendonor) ingin menjadi seseorang tanpa gender dan menyumbangkan penisnya kepada seseorang," jelasnya.

"Jadi saya akan meminta rekan-rekan saya di AS yang ingin menyalin operasi untuk melakukan operasi pada salah satu pasien mereka sendiri dan saya akan menjadi konsultan," sambung dia.

Kasus pertama transplantasi penis yang dilakukan 11 Desember 2014 lalu mengambil bagian penis dari 'donor mati'. Karenanya, tidak ada cara kala itu untuk memastikan riwayat seksual pendonor.

Dia menambahkan bahwa cangkok kulit yang diambil dari bagian dalam kaki pasien telah digunakan bersama dengan beberapa tato untuk memastikan bahwa penis baru memiliki warna yang sama dengan kulit pasien penerima.

Tidak sedikit yang menilai aksi 'dr Dick' ini sembrono. Namun, 'dr Dick' punya alasan tersendiri.

"Ini adalah situasi yang sangat serius. Bagi seorang pria muda berusia 18 atau 19 tahun, kehilangan penisnya bisa sangat traumatis," katanya.

"Dia belum tentu memiliki kemampuan psikologis untuk memproses ini. Bahkan ada laporan bunuh diri di antara para pemuda ini."

Pasien dr van der Merwe menyebut pasien asal Afrika Selatan tersebut sudah aktif secara seksual ketika dia disunat pada usia 18 tahun. Prosedur ini merupakan ritual umum di banyak bagian Afrika Selatan untuk menandai transisi menuju kedewasaan, tetapi dalam kasusnya, ada beberapa kesalahan yang membuat pria kehilangan kurang dari satu inci penisnya.

Tingkat sunat laki-laki diyakini hampir 50 persen di Afrika Selatan.

Para ahli mengatakan sebanyak 250 pria Afrika Selatan kehilangan seluruh atau sebagian penis mereka karena praktik sunat yang dilakukan dengan buruk dan Dr van der Merwe mengatakan dia berniat untuk terus melakukan transplantasi penis meskipun beberapa kritikus mengatakan itu tidak perlu.

"Ada kebutuhan yang lebih besar di Afrika Selatan untuk jenis prosedur ini daripada di tempat lain di dunia, karena banyak pria muda kehilangan penis mereka setiap tahun karena komplikasi dari ritual sunat," katanya.

"Anda mungkin mengatakan itu tidak menyelamatkan hidup mereka, tetapi banyak dari pria muda ini ketika mereka menjalani amputasi penis dikucilkan, distigmatisasi, dan bunuh diri," pungkas dia, dalam wawancara bersama BBC.



Simak Video "Pasien Pertama Penerima Cangkok Jantung Babi Meninggal, Ini Kata Ahli"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)