Catatan Penting Soal 3 Kasus Pertama Varian Omicron di Indonesia

ADVERTISEMENT

Round Up

Catatan Penting Soal 3 Kasus Pertama Varian Omicron di Indonesia

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Minggu, 19 Des 2021 04:58 WIB
Strips of newspaper with the words Omicron and Covid-19 typed on them. Omicron variant of COVID-19. Black and white. Close up.
Sudah ada 3 kasus varian Omicron di Indonesia (Foto: Getty Images/iStockphoto/Professor25)
Jakarta -

Total sudah ada 3 kasus COVID-19 varian Omicron B.1.1.529 di Indonesia. Beberapa catatan penting menyiratkan perlunya antisipasi ekstra terkait risiko penularannya.

Kasus pertama Omicron di Indonesia ditemukan pada seorang petugas kebersihan di RSDC Wisma Atlet Kemayoran berinisial N. Temuan ini diumumkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Kamis (16/12/2021).

Belakangan, Kementerian Kesehatan kembali mengumumkan 2 kasus lain varian Omicron pada Sabtu (18/12/2021). Keduanya merupakan kasus impor, ditemukan pada seorang pria yang baru tiba dari Amerika Selatan dan seorang pria dengan riwayat perjalanan dari Inggris.

Berikut beberapa fakta dan catatan penting dari ketiga temuan kasus pertama Omicron di Indonesia.

1. Tak semua impor

Pada kasus pertama, N disebut tidak memiliki riwayat bepergian ke luar negeri. Meski ada kemungkinan terjadi penularan di dalam negeri, Menteri Kesehatan memastikan belum ada bukti telah terjadi penularan komunitas.

"Sampai sekarang belum kita lihat adanya transmisi komunitas," kata Menkes.

Tidak ada bukti bukan berarti tidak mungkin terjadi. Masih lemahnya genome sequencing di Indonesia beberapa kali disorot para pakar, sehingga memunculkan prediksi bahwa sebenarnya Omicron diam-diam sudah ada sebelumnya dan tidak terdeteksi.

Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi yang juga pakar penyakit menular Prof Tjandra Yoga Aditama menekankan pentingnya mitigasi berlapis. Menurutnya, tak menutup kemungkinan ada kasus penularan di dalam negeri lainnya di luar N.

"Artinya, amat perlu sekarang dilakukan pelacakan amat masif tentang penularan ke dan dari Tn N, dan juga terhadap 2 kasus baru ini serta kemungkinan kalau ada kasus baru lain di hari mendatang," pesannya.

2. Tertular meski prokes ketat

Kasus N terjadi di Wisma Atlet, tempatnya bekerja sebagai petugas kebersihan. Sebagai tempat karantina terpusat, risikonya sudah pasti lebih tinggi. Meski demikian, protokol kesehatan juga dijalankan dengan sangat ketat di fasilitas tersebut.

"Hal ini sedikit banyak menambah informasi bahwa Omicron memang lebih mudah menular," tegas Prof Tjandra.

Karenanya, ia mengingatkan untuk lebih disiplin menerapkan protokol-protokol pencegahan. Jika di lingkungan yang penerapan protokolnya sangat ketat saja bisa tertular, maka risikonya akan lebih tinggi jika protokol tidak diterapkan.

"Marilah kita ubah pendapat bahwa kepatuhan Protokol Kesehatan adalah 'New Normal' mejadi 'Now Normal'," pesan Prof Tjandra yang pernah menjabat direktur WHO Asia Tenggara.

Ketiga kasus ditemukan tanpa gejala, apa artinya? Selengkapnya di halaman berikut.



Simak Video "Temuan Terkini Terkait Subvarian Omicron BN.1"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT