Minggu, 19 Des 2021 14:34 WIB

Tak Ingin Kembali ke 'Masa Kelam' Gara-gara Omicron? Ini Saran Ahli

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Sejumlah kendaraan ambulans dan bus sekolah yang membawa pasien COVID-19 antre untuk masuk kawasan Rumah Sakit Darurat  COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Jakarta, Kamis (10/6). Antrean ambulans di masa-masa kelam COVID-19 (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Beberapa wilayah di Indonesia baru mulai menjalani kehidupan 'normal' lagi setelah sekian lama dihantam pandemi. Masuknya varian Omicron dalam sekejap meruntuhkan harapan untuk benar-benar hidup normal, dan menumbuhkan kekhawatiran akan kembali ke masa-masa kelam.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr Ari Fahrial Syam, menyebut masa-masa mencekam itu berlangsung sekitar Juni-Juli 2021. Situasi serba sulit, Bed Occupancy Rate (BOR) rumah sakit di atas 100 persen, ventilator terbatas, obat-obatan kosong, dan bahkan tenaga kesehatan berguguran.

"Tiga puluh persen dokter yang meninggal selama pandemi ini, terjadi pada periode Juni-Juli 2021," kata Prof Ari kepada wartawan, Minggu (19/12/2021).

Temuan 3 kasus varian Omicron di Indonesia mengingatkan kembali betapa dahsyatnya dampak yang terjadi ketika penularan virus Corona tidak terkendali. Risiko kembali ke masa-masa kelam tersebut patut diwaspadai, mengingat satu dari 3 kasus Omicron merupakan transmisi lokal.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan Omicron menurut Prof Ari adalah sebagai berikut:

1. Prokes ketat!

Termasuk di antaranya menggunakan masker dengan baik dan benar, serta menghindari kerumunan. Bepergian di luar negeri sebaiknya dihindari dulu, terlebih ke negara dengan kasus Omicron tinggi.

"Vaksinasi untuk yang belum vaksinasi," saran Prof Ari, yang juga harus kehilangan ayahnya dalam periode 'kelam' tersebut.

2. Jaga perbatasan

Prof Ari menyarankan untuk tetap menjaga pintu masuk Indonesia dengan ketat. Karantina wajib diterapkan bagi siapapun yang datang dari luar negeri tanpa tebang pilih.

3. Tahan diri saat tahun baru

Lupakan pesta kembang api dan party-party. Prof Ari menyarankan untuk menutup tempat-tempat rekreasi pada malam tahun baru. Kerumunan selalu meningkatkan risiko penularan.

4. Tingkatkan deteksi

Salah satu yang perlu ditingkatkan adalah metode Spike Gene (S-gene) Target Failure atau SGTF. Metode ini digunakan untuk mendeteksi varian Omicron.

Simak Video: Top 5 2021: Vaksinasi Covid-19 Perdana hingga Varian Omicron Masuk Indonesia

[Gambas:Video 20detik]



(up/vyp)