ADVERTISEMENT

Kamis, 30 Des 2021 17:34 WIB

Anaknya Meninggal akibat COVID-19, Warga Meksiko Gugat China dan WHO

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
COVID-19 named by WHO for Novel coronavirus NCP concept. Doctor or lab technician in PPE suit holding blood sample with novel (new) coronavirus  in Wuhan, Hubei Province, China, medical and healthcare Ilustrasi warga Meksiko menuntut China dan WHO atas merebaknya wabah virus Corona. Foto: Getty Images/iStockphoto/Pornpak Khunatorn
Jakarta -

Jaime Michaus bergabung dengan ratusan warga Meksiko yang menuntut kompensasi dari China dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atas merebaknya wabah Corona di seluruh dunia.

Perasaan Michaus hancur setelah kehilangan putrinya akibat virus COVID-19. Putri Michaus meninggal di usia 25 tahun pada Juli lalu. Ia meninggalkan bayi berusia satu bulan.

"Saya masih tidak yakin apakah saya melakukan hal yang benar," kata Michaus dikutip dari CNA.

"Saya memiliki perasaan campur aduk karena saya seperti mendapat untung dari kematian putri saya," ujarnya.

Michaus baru-baru ini menandatangani klaim hukum internasional terhadap China dan WHO yang dipromosikan oleh Kantor Hukum Internasional Poplavsky yang berbasis di Buenos Aires. Perusahaan tersebut merayu warga Mesiko di media sosial dengan slogan "Apakah Anda menderita COVID? Ketahui hak Anda."

"Klaim ini diajukan karena kelalaian China dan WHO dalam penanganan COVID-19," kata Denisse Gonzalez, perwakilan Poplavsky di Meksiko, kepada AFP.

Poplavsky adalah perusahaan yang memiliki cabang di Amerika Latin, Amerika Serikat dan Dubai. Mereka mengatakan pihaknya telah mendaftarkan penggugat dari negara lain termasuk Kolombia dan Argentina. Namun Gonzalez tidak menyebutkan berapa banyak orang yang menggugat.

Gugatan senilai jutaan dolar itu diajukan ke markas Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Jenewa dengan tuduhan pelanggaran terhadap Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Kompensasi yang diminta bervariasi mulai dari US$ 200.000 karena jatuh sakit akibat COVID-19 hingga US$ 800.000 dalam kasus kematian.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada hari Rabu menanggapi gugatan tersebut pada Rabu (29/12/2021). Ia mengatakan sistem darurat kesehatan WHO telah beraksi atas gugatan tersebut.

Virus corona menewaskan lebih dari 5,4 juta orang di seluruh dunia sejak pertama kali terdeteksi di kota Wuhan di China pada Desember 2019. Meksiko melaporkan hampir 300.000 kematian akibat COVID-19, salah satu yang tertinggi di dunia. Lebih dari 3,95 juta kasus terkonfirmasi dari negara ini.

"Saya tidak pernah menderita tekanan darah tinggi dan sekarang naik turun, yang berbahaya," kata seorang karyawan SPBU berusia 35 tahun yang juga mencari kompensasi setelah tertular virus Corona.

Pakar hukum internasional publik di Universitas Otonomi Nasional Meksiko, Lourdes Marleck Rios Nava, menilai peluang menang atas gugatan itu terbatas. "Orang-orang tahu bahwa mereka tidak akan berhasil, tetapi tiba-tiba mereka mengajukan tuntutan hukum," katanya.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT