Selasa, 18 Jan 2022 10:30 WIB

39 Sekolah DKI Ditutup gegara 67 Kasus COVID-19, Begini Catatan Epidemiolog

Vidya Pinandhita - detikHealth
Pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen telah digelar di Jakarta sejak Senin (3/1/2021). PTM pun masih berjalan meski Jakarta kini menerapkan PPKM level 2. Catatan epidemiolog tentang pentingnya pembatasan PTM untuk menekan kenaikan kasus COVID-19 RI gegara varian Omicron. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Sebanyak 39 sekolah di DKI Jakarta ditutup akibat temuan 67 kasus COVID-19. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria memaparkan 67 kasus tersebut terdiri dari 62 siswa, 2 pendidik, serta 3 tenaga kependidikan.

"Totalnya yang ditutup ada 39 sekolah namun sebagian sudah dibuka kembali. Dari total sekian yang terpapar, peserta didik 62, pendidik 2, tenaga kependidikan 3. Total 67 yang terpapar virus Corona," kata Riza di Balai Kota DKI Jakarta, dikutip dari detikNews, Selasa (18/1/2022).

Dalam kesempatan sebelumnya, pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono sudah menegaskan pentingnya pembatasan sosial secara komprehensif untuk menekan kenaikan kasus COVID-19 yang kini dihadapi RI. Di antaranya, dengan membatasi aktivitas Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dan Work from Office (WFO).

"Sekolah juga dengan SKB 4 Menteri itu dianjurkan tidak 100 persen. Seharusnya itu pengurangan kegiatan sosial. Seharusnya komprehensif dan yang dikurangi itu adalah kegiatan-kegiatan sosial yang punya dampak ekonomi kecil kemudian juga memiliki respons penularan kecil," terangnya pada detikcom, Senin (17/1).

Jangan tunggu meledak

Hal senada ditegaskan oleh epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman. Menurutnya, pengurangan mobilitas dengan sekolah daring perlu dilakukan untuk mengatasi kenaikan kasus COVID-19 RI terkait varian Omicron yang menular dengan amat cepat.

"Belajar daring atau secara online menjadi penting. Karena ini akan membantu mengurangi mobilitas," jelas Dicky.

"Kita jangan menunggu sampai meledak karena kalau sudah meledak, katakanlah awal Februari, sudah terlambat nanti. Karena kecepatan dari Omicron ini sangat efektif dalam menularkan dan dalam kecepatannya menyebar. Jumlah infeksinya bisa 4 kali lebih banyak," pungkasnya.

Simak juga 'Satu Siswa SMAN 22 Surabaya Positif Corona, Teman Sekelas-Guru Diswab':

[Gambas:Video 20detik]



(vyp/up)