Diyakini Bisa Jebol Imunitas, 'Omicron Siluman' BA.2 Picu Gejala Lebih Berat?

ADVERTISEMENT

Diyakini Bisa Jebol Imunitas, 'Omicron Siluman' BA.2 Picu Gejala Lebih Berat?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jumat, 18 Feb 2022 12:00 WIB
Omicron Corona Virus Variant
Paparan peneliti tentang subvarian Omicron BA.2 alias 'Omicron siluman'. Foto: Getty Images/iStockphoto/MCCAIG
Jakarta -

Hingga kini peneliti belum bisa memastikan kemampuan subvarian Omicron alias BA.2 'Omicron siluman' dalam memicu gejala berat dan rawat inap. Namun penelitian terakhir menyebut, BA.2 memiliki kemampuan transmisi yang jauh lebih unggul dibanding varian Omicron BA.1.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (HSA) menyebut, kemampuan vaksin dalam melawan BA.2 sebenarnya setara dalam melawan BA.1. Walhasil, suntikan vaksin COVID-19 dosis lanjut atau booster diyakini masih bisa mencegah penyakit berat pada pasien COVID-19.

Pada Selasa (15/2/2022), peneliti di Jepang merilis hasil penelitian yang menyebut BA.2 berpotensi lebih menyebabkan penyakit berat, serta bisa kabur dari imunitas dibanding BA.1.

Peneliti menginfeksi hamster dengan BA.1, kemudian melihat adanya respons kekebalan dan antibodi pada darah. Namun ketika peneliti mengekspos sampel BA.1 dan BA.2 ke antibodi untuk melihat respons yang timbul, peneliti menemukan bahwa BA.2 sebanyak 2,9 kali lebih kebal terhadap sampel hamster dari BA.1.

Peneliti juga melakukan pengujian terhadap tikus, kemudian membandingkan antibodi terhadap BA.1 dan BA.2. Kali ini ditemukan, BA.2 sebanyak 6,4 kali lebih kebal dibanding BA.1.

Para peneliti juga menyebut, sampel dengan infeksi BA.2 mengalami lebih banyak gangguan kesehatan, seperti penurunan berat badan lebih besar dibandingkan infeksi BA.1. Selain itu, jumlah virus pada infeksi BA.2 di paru-paru terlihat lebih tinggi dibandingkan BA.1.

Namun ditegaskan, penelitian ini belum ditinjau oleh rekan sejawat sehingga hasil penelitiannya belum bisa disimpulkan hingga saat ini. Selain itu, model kultur hewan dan sel tidak selalu bisa diterjemahkan secara akurat pada manusia.

"Saya pikir selalu sulit untuk menerjemahkan perbedaan pada model kultur hewan dan sel terkait penyakit yang akan ditimbulkan pada manusia. Katanya, perbedaannya memang terlihat nyata," ujar Jeremy Kamil, profesor mikrobiologi dan imunologi di Louisiana State University Health Shreveport, dikutip dari Newsweek, Jumat (18/2).

"Saya juga ingin menekankan bahwa imunitas terhadap BA.1 akan bisa melawan. Pada banyak kasus bisa melindungi orang-orang, termasuk dari infeksi BA.2 dalam waktu dekat," imbuhnya.

Kamil setuju, BA.2 layak beroleh status Variant of Concern (VoC). Namun melihat hasil riset yang sejauh ini ada, Kamil meyakini eksperimen yang sebenarnya terkait BA.2 sudah berlangsung di populasi dunia dengan tingkat keparahan penyakit yang lebih sedikit dibanding varian Corona sebelumnya.



Simak Video "Jangan Euforia Dulu! Epidemiolog Minta Waspada soal BA.2"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT