Kamis, 24 Feb 2022 11:02 WIB

Kampanye #141CekTBC, STPI Ajak Masyarakat Skrining Gejala Aktif TBC

Sponsored - detikHealth
STPI Foto: STPI
Jakarta -

Mengawali tahun 2022, Stop TB Partnership Indonesia (STPI) memulai kampanye komunikasi digital #141CekTBC sebagai strategi promosi kesehatan untuk mengurangi risiko berat dari penyakit Tuberkulosis (TBC). Kampanye digital ini selaras dengan program kampanye Temukan-Obati-Sampai-Sembuh (TOSS) TBC dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Diketahui, kampanye #141CekTBC digelar untuk meningkatkan pengetahuan, pandangan, dan sikap masyarakat Indonesia yang mengalami gejala TBC, terutama di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Sebagaimana kita tahu, bahaya penyakit TBC masih mengintai bahkan pada 2021 lalu WHO mengungkap Indonesia menjadi negara peringkat ketiga di dunia yang menyumbang 824.000 pasien TBC.

Namun, jumlah orang dengan gejala TBC yang diobati merosot di masa pandemi, pada tahun 2020 ditemukan sebanyak 384.025 kasus atau sekitar 47% saja. Capaian penemuan kasus ini menurun 178.024 dari tahun 2019, padahal sekitar 8% angka kejadian TBC dunia berada di Indonesia.

Untuk itu, STPI melalui kampanye #141CekTBC bertujuan untuk mendorong kesadaran masyarakat Indonesia yang masih rendah terkait TBC. Masyarakat diimbau agar dapat segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan bila mempunyai gejala batuk terus menerus selama 14 hari atau lebih.

Kesadaran yang rendah ini umumnya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang pemeriksaan TBC dan tentang lama pengobatan, stigma, serta pandangan bahwa seseorang bisa menerima pengobatan tanpa melakukan tes atau diagnosis terlebih dahulu.

Masyarakat pun diajak untuk lebih peka dan sadar dengan berbagai gejala umum Tuberkulosis dengan cara skrining gejala aktif TBC secara mandiri dengan mengingat #141CekTBC. Maksudnya, jika 14 hari Batuk Tak kunjung Reda? 1 Solusi, Cek Dokter Segera!

Dengan begitu, STPI berharap masyarakat dapat menyadari pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan.

Dukungan Fitur untuk Bantu Masyarakat Pahami TBC

Kampanye ini didukung oleh deretan fitur yang bisa membantu masyarakat memahami tentang penyakit Tuberkulosis. Salah satunya, fitur Chatbot yang segera bisa diakses dari website dan Whatsapp.

Fitur ini bisa membantu masyarakat mendapatkan panduan identifikasi TBC sejak dini, mengetahui lokasi fasilitas kesehatan terdekat untuk melakukan pemeriksaan di layanan dengan fasilitas diagnosis, hingga berbicara langsung dengan dokter melalui rekanan e-health platform.

Ada juga fitur Pengingat 141CekTBC yang diharapkan bisa membantu masyarakat lebih cepat tanggap terhadap gejala Tuberkulosis dengan memasang pengingat tentang lamanya gejala batuk muncul hingga hari keempat belas.

Kampanye ini juga dilengkapi dengan berbagai artikel kesehatan yang bisa diakses di website Stop TB Partnership Indonesia dan microsite salah satu media online nasional. Dengan adanya artikel tersebut, masyarakat diharapkan bisa menambah pengetahuannya tentang Tuberkulosis. Sehingga, kesadaran untuk memeriksakan diri dan mengobati penyakit ini sampai sembuh pun meningkat.

STPI Foto: STPI

Adapun pendekatan persuasif kampanye ini diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan, pandangan, dan sikap orang-orang dengan gejala TBC untuk mengakses layanan dengan fasilitas diagnosis TBC di masa pandemi. Dengan begitu, mereka yang memiliki gejala TBC bisa mendapatkan diagnosis tepat serta pengobatan yang sesuai standar sampai sembuh.

"Selain COVID-19, kesehatan masyarakat Indonesia masih terbebani dengan penyakit menular seperti TBC yang sudah ada sejak lama. Upaya mempromosikan penyakit ini pun harus mengadopsi cara-cara baru untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa TBC masih ada di sekitar kita. TBC bukan batuk biasa, jika mengalami gejala batuk lebih dari 14 hari sudah waktunya mencari solusi dengan periksa ke dokter," jelas Direktur Eksekutif STPI, dr. Henry Diatmo, MKM dalam keterangan tertulis, Rabu (23/2/2022).

Sementara itu, Koordinator Substansi Tuberkulosis dr. Tiffany Tiara Pakasi menjelaskan salah satu pasal dalam Peraturan Presiden No 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan TBC menggarisbawahi perlunya melakukan penyebarluasan informasi terkait TBC kepada masyarakat.

"Upaya kampanye #141CekTBC yang digalang oleh STPI ini merupakan ajang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait perilaku pencarian pelayanan kesehatan. Kami harap dengan adanya kampanye ini dapat membangun kemauan individu yang bergejala TBC untuk memeriksakan diri sedini mungkin sehingga memutus rantai penularan TBC di masyarakat," ujar dr. Tiffany.

Menurutnya, membangun kesadaran adalah hal fundamental yang harus dilakukan untuk mengubah pandangan dan perilaku masyarakat Indonesia terhadap penyakit Tuberkulosis. Terlebih, sejak munculnya COVID-19 yang sama-sama menjadi penyakit menular melalui udara dan menunjukan gejala serupa, yaitu batuk dan demam.

Oleh karena itu, kampanye promosi kesehatan tentang penyakit TBC dinilai menjadi semakin penting di masa pandemi ini.

14 Hari Batuk Tak Reda? 1 Solusi, Cek Dokter Segera!

Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa kunjungi 141.stoptbindonesia.org atau https://tbindonesia.or.id.

(Content Promotion/STPI)