ADVERTISEMENT

Kamis, 10 Mar 2022 12:31 WIB

Kolom

Sakit itu Nggak Enak dan Mahal Harganya

Jessica Elysia - detikHealth
Ilustrasi Gaya Hidup Sehat Foto: Shutterstock
Jakarta -

Sewaktu sekolah saya sering sekali tinggal sendiri di rumah. Bahkan waktu SMA saya benar-benar seorang diri setiap harinya, tanpa adanya bantuan asisten rumah tangga. Papa tugas di Bandung, sedangkan mama tugas di Sulawesi. Sebagai anak tunggal saya cukup terbiasa dengan hal tersebut, bahkan menjadikan saya senang menyendiri sampai sekarang.

Tapi tanpa saya sadari, ternyata rasa butuh perhatian itu muncul dari diri saya saat itu. Apalagi di saat saya sedang sakit. Saya ingat betapa senangnya saya saat orang lain khawatir dan sangat memperhatikan di saat saya sakit, walaupun hanya sakit ringan saja. Saya jadi sedikit manja dan sangat bergantung pada orang lain meskipun hanya sakit sedikit.

Hingga suatu saat di waktu kuliah saya mengalami sakit typus sebanyak 2 kali dalam kurun waktu singkat. Dan di saat itu saya sadar bahwa sakit itu tidak enak, sulit sekali tidur dan begitu menderita karena makanan yang dikonsumsi pun terbatas. Ya, sakit itu nggak enak!

Semakin beranjak dewasa, saya pun semakin disadarkan bahwa selain sakit itu tidak enak bagi diri kita sendiri, itu juga tidak enak bagi orang-orang yang merawat kita saat sakit (orang terdekat kita). Meskipun kita diopname di rumah sakit dan ditangani oleh tenaga medis yang ahli, sudah sangat dipastikan ada orang terdekat kita mendampingi karena tidak tega meninggalkan kita sendiri di rumah sakit, ya kan?

Saya ingat betul betapa khawatirnya saya saat pasangan saya sakit panas, demam naik turun beberapa waktu lalu. Saat dia tertidur, saya justru yang tidak bisa tidur karena siaga memeriksa kondisi dan mengukur suhu tubuhnya setiap saat.

Bahkan di saat sepertinya keadaan sudah aman terkendali dan saya sudah boleh tertidur, tetap saja saya tidak bisa tidur tenang. Rasa cemas dan seperti ada sesuatu yang kurang mengharuskan saya untuk tetap siaga dan berpikir "Bagaimana kalau dia butuh minum di malam hari?", "bagaimana kalau infusannya habis?", "bagaimana ini?", "bagaimana itu?"

Dan berbagai pertanyaan lainnya yang muncul di dalam pikiran saya sendiri. Itu mengapa selain banyaknya ucapan 'semoga cepat sembuh' untuk pasangan, begitu banyaknya juga ucapan kepada saya untuk tetap kuat.

Kuat secara lahir maupun batin, karena memang menjaga orang sakit membutuhkan stamina ekstra. Selain kesehatan fisik yang ekstra, dibutuhkan kesehatan pikiran yang harus dijaga dengan ekstra baik juga.

Itulah sebabnya beberapa bulan terakhir ini pola hidup saya mulai diperbaiki. Bukan hanya kesehatan tubuh saja yang harus diperhatikan, tetapi jiwa dan roh saya pun harus diperbaiki. Karena ketiga unsur tersebut ada di dalam setiap manusia. Dan inilah langkah pilihan sehat saya.

Untuk kesehatan tubuh, saya mulai membiasakan diri lagi untuk hidup sehat dengan makan makanan sehat. Lalu saya kembali memulai olahraga rutin, dengan lari keliling rumah contoh yang paling sederhananya.

Setelah itu, saya mulai membangun pola hidup yang baik dengan mengatur pola tidur dengan baik, tidur cukup dan tidak bergadang. Dan yang terakhir dalam rangkaian kesehatan tubuh, saya berusaha semaksimal mungkin untuk meminum vitamin dan air putih secukupnya.

Untuk kesehatan jiwa, saya berusaha semaksimal mungkin untuk mengatur pola pikir (tingkat stres) diri saya sendiri. Sangat diyakini, sumber dari segala penyakit adalah stres. Saat jiwa kita sakit (stres), maka kondisi fisik kita pun berangsur-angsur akan menurun. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengendalikan pola pikiran kita.

Dan yang paling terakhir dan tidak kalah penting, yaitu kesehatan roh. Kita harus tetap mendekat kepada Sang Pencipta agar kita dapat terus sehat dan terkendali. Perbanyak doa, bersyukur dan memilih untuk bahagia senantiasa.

Saat ketiga unsur tersebut sehat, saya yakin imunitas kita akan semakin meningkat dan niscaya tubuh kita pun akan semakin sehat. Tidak enak memang untuk memulai, dibutuhkan usaha yang ekstra keras untuk melawan keinginan jasmani ini, tapi percayalah lebih tidak enak lagi kalau sakit. Ini merupakan tindakan nyata saya mencintai diri sendiri serta orang-orang yang saya kasihi.

Harapan saya dengan saya berusaha menjaga kesehatan sedini mungkin, saya akan semakin fit dan saya berharap membangun fondasi yang baik di dalam kesehatan saya. Setidaknya saya melakukan langkah pencegahan terlebih dahulu. Dan saya berharap bisa terus sehat sampai di masa-masa tua saya, tanpa menyusahkan orang-orang terdekat (pasangan, anak atau pun orang tua).

Karena sakit itu nggak enak dan sehat itu mahal harganya.


Jessica Elysia, Pemenang Favorit Lomba Karya Tulis Ultra Milk



Simak Video "Aturan Terbaru dari CDC AS Terkait Karantina Anak Sekolah"
[Gambas:Video 20detik]
(ads/ads)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT