ADVERTISEMENT

Sabtu, 12 Mar 2022 10:43 WIB

Kolom

Bijak Bermedia Sosial untuk Kesehatan Mental yang Lebih Baik

Abdul Zakaria - detikHealth
Ilustrasi Foto: Shutterstock
Jakarta -

Apakah merasa diri Anda semakin 'lemot' atau susah berpikir? Atau Anda juga merasa mudah stres dan depresi? Baru-baru ini sebuah studi yang terbit di International Journal 0f Environmental Research and Public Health menyatakan bahwa remaja yang kecanduan TikTok mengalami penurunan kapasitas memori kerja serta memiliki masalah stress dan depresi. Studi tersebut menyasar 3036 siswa sekolah menengah di China yang mengaku sering menggunakan TikTok. TikTok sendiri merupakan sebuah platform media sosial yang sangat digandrungi. Jumlah penggunanya ternyata lebih dari 1 milyar dari seluruh dunia.

Media sosial saat ini merupakan sarana yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Awalnya media sosial hanyalah sebuah hiburan untuk mengisi waktu luang. Namun siapa sangka seiring berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi, media sosial memiliki peran penting dalam keberlangsungan hidup manusia. Kebutuhan akan informasi menjadi alasan kuat mengapa harus bermedia sosial. Sayangnya, kita dibuat terlalu nyaman dengan kemudahan akses informasi yang ada sehingga kita menjadi lupa dengan kehidupan nyata yang sedang kita jalani. Lupa mengurus diri, lupa mengurus keluarga, bahkan lupa dengan pekerjaan yang harusnya bisa segera dikerjakan dan diselesaikan. Terlalu sering bermedia sosial ternyata tidak baik untuk kesehatan terutama kesehatan mental.

Studi kesehatan menyatakan orang yang terlalu sering atau kecanduan media sosial tiga kali lebih beresiko mengalami depresi. Ketika bermedia sosial, kita tanpa sadar terfokus melihat konten-konten kehidupan orang lain yang kelihatannya sangat menyenangkan seperti traveling, berbelanja, membangun bisnis, dan lain-lain. Hal ini kerap kali membuat kita merasa insecure dan secara tidak sengaja membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain. Kita menjadi minder dan bergumam "kapan ya bisa kayak dia? Enak banget ya hidupnya" sehingga berakibat mental menjadi lemah, mudah menyerah, dan putus asa. Perasaan-perasaan seperti ini yang harus dihindari terutama oleh generasi milenial karena membuat tubuh menjadi tidak produktif. Cara menghindarinya adalah tentu saja dengan membatasi waktu bermedia sosial.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan media sosial selama penggunaannya masih dalam batas wajar. Bijak dalam menggunakan media sosial justru akan memberikan manfaat bagi kita mengingat banyak pula manfaat yang bisa kita dapat seperti sumber inspirasi, motivasi, informasi pemecahan masalah, dan sebagainya. Yang menjadi masalah adalah terlalu sering atau terlalu lama bermedia sosial sehingga banyak hal menjadi terbengkalai.

Untuk itu marilah kita mulai mengatur "porsi konsumsi" media sosial dengan cara berkomitmen untuk membatasi waktu bermedia sosial. Mari kita coba lakukan puasa medsos, yaitu tidak membuka media sosial sama sekali minimal selama satu jam dan lakukan aktifitas real seperti bersih-bersih rumah, memasak, olahraga, membuat kerajinan tangan, dan lain-lain. Tujuannya adalah make your move, agar tubuh bergerak aktif sehingga sistem motorik tetap berjalan dengan baik. Aktif bergerak ternyata baik untuk kesehatan mental dan fisik lho sobat.

Oleh karena itu, marilah kita bijak dalam bermedia sosial dan berkomitmen untuk menggunakan media sosial sewajarnya saja agar kesehatan mental dan fisik tetap terjaga. Selain itu, dengan mengatur pola bermedia sosial yang baik maka kita dapat melakukan banyak aktifitas-aktifitas yang bermanfaat bagi hidup kita.

Abdul Zakaria, Pemenang Favorit Lomba Karya Tulis Ultra Milk



Simak Video "AS Terbitkan Izin Penggunaan Darurat Vaksin JYNNEOS untuk Monkeypox"
[Gambas:Video 20detik]
(ads/ads)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT