Rabu, 30 Mar 2022 13:36 WIB

Gaduh IDI Vs Terawan Memanas di Medsos, 'Cebong-Kadrun' Dibawa-bawa

Vidya Pinandhita - detikHealth
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (kanan) berbincang dengan anggota Komisi IX DPR sebelum mengikuti Rapat Dengar Pandapat di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2020). RDP tersebut membahas efektivitas pengorganisasian dan penganggaran dalam penanganan COVID-19, termasuk perkembangan tentang uji vaksin untuk COVID-19. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/nz Eks Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto. Foto: ANTARAFOTO/PUSPA PERWITASARI
Jakarta -

Gaduh pemecatan dr Terawan Agus Putranto oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tampaknya makin melebar. Di media sosial, santer narasi yang mengaitkannya dengan polarisasi cebong-kadrun.

Banyak pihak menyerukan adanya mediasi untuk menengahi konflik tersebut. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahkan telah menyediakan diri untuk membantu memediasi konflik antara IDI dengan anggotanya tersebut.

Saran serupa juga disampaikan dr Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD-KPsi atau yang biasa disapa dr Koko, praktisi kesehatan yang juga pegiat medsos. Dalam cuitannya, ia menekankan bahwa konflik ini sudah menjadi perbincangan publik.

"Beda jalan antara dokter Terawan dan Majelis dalam Ikatan Dokter Indonesia dibawa-bawa ke konflik cebong-kadrun," ujar dr Koko melalui akun Twitter resminya @dr_koko28, dikutip detikcom atas izin yang bersangkutan, Rabu (30/3/2022).

"Padahal solusinya mudah saja. Lakukan audit dan mediasi. Dan karena sudah menjadi perbincangan publik ya menurut saya (in my humble opinion), audit dan mediasinya terbuka saja. Agar terang," imbuhnya.

Lebih lanjut saat dihubungi detikcom, dr Koko menyebut meski dirinya tak memahami teknis yang diperlukan dalam mediasi tersebut, ia meyakini prinsip dasarnya adalah perseteruan tersebut sebaiknya diatasi dengan komunikasi terbuka oleh kedua belah pihak. Dalam hal ini, yakni Terawan dengan pihak IDI.

"Tapi perlu mediator yang kuat. Agar tidak terjadi polarisasi dan 'menang jadi arang, kalah jadi abu'," pungkas dr Koko.



Simak Video "Butet Kartaredjasa: Saya Pokoknya Percaya sama Terawan"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)