ADVERTISEMENT

Selasa, 03 Mei 2022 22:30 WIB

Pria Nekat Jadi Relawan Minum Bakteri Dibayar Ratusan Juta, Begini Nasibnya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
ilustrasi toilet Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta -

Seorang pria asal Maryland, Baltimore, nekat menjadi relawan dari sebuah penelitian uji coba vaksin. Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti di Institut Pasteur, Prancis.

Pria bernama Jake Eberts ini menjadi relawan bersama 15 orang lainnya. Mereka diharuskan meminum segelas cairan berwarna keruh dan asin yang mengandung bakteri shigella.

Diketahui, bakteri shigella ini bisa membuat seseorang sakit disentri, yaitu infeksi yang menyebabkan diare berdarah atau lendir. Penelitian ini merupakan bagian dari proses yang dikontrol ketat untuk menguji kandidat vaksin.

Nantinya, beberapa relawan akan divaksinasi dan ada yang tidak. Setelahnya, peneliti akan melihat dan menilai hasilnya.

Tak tanggung-tanggung, setiap relawan yang mengikuti penelitian ini akan dibayar lebih dari 101,6 juta rupiah.

Mulai Sakit

Setelah 40 jam meminum bakteri shigella, Jake mulai merasa sakit. Saat bangun tidur, pria berusia 26 tahun itu mengalami kram perut dan tubuhnya menggigil. Beberapa gejala lain juga mulai muncul dengan cepat seperti demam, diare, hingga feses yang berdarah.

"Saya sungguh merasa seperti tidak bisa bergerak," ungkap Jake yang dikutip dari laman Insider, Selasa (3/5/2022).

"Setiap bergerak di kamar mandi, untuk bangun, untuk mencuci tangan atau mengambil tisu, saya akan berbaring di lantai dan hanya duduk di sana selama lima menit," lanjutnya.

Diberi Vaksin

Demam yang dialami Jake terus naik sampai 39,4 derajat Celcius dan membuatnya hanya bisa terbaring di bawah tumpukan selimut. Dalam waktu beberapa jam, Jake akhirnya diberikan vaksin dan antibiotik ciprofloxacin.

Setelah empat jam, kondisi Jake mulai membaik. Ia sudah bisa berjalan dan berbicara meski masih agak kesulitan.

Jake juga sempat merasa sangat kesakitan. Hal ini mendorong para peneliti untuk mengecek sampel urine dan feses dari Jake.

Dari sampel tersebut, peneliti akan mempelajari jenis respons imun yang muncul dari vaksin dan mengukur lebih jauh apakah vaksin itu dapat mengurangi efek dari penyakitnya.

"Cara ini membuat kami mempelajari mekanisme perlindungan (vaksin)," jelas peneliti.

Diketahui, ini merupakan uji coba fase kedua dan sudah dilakukan sebelumnya di Israel. Menurut peneliti, jika hasil uji coba fase kedua ini baik, vaksin akan diuji dalam skala yang lebih besar di seluruh dunia.



Simak Video "Bakteri Usus Membantu Melawan Gejala Covid-19 pada Anak-anak"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT