Minggu, 22 Mei 2022 11:06 WIB

Konsultasi Kesehatan

Tak Kunjung Hamil Usai Dua Tahun Menikah, Bagaimana Solusinya Dok?

Firdaus Anwar - detikHealth
Cropped shot of a young woman taking a pregnancy test Foto: Getty Images/katleho Seisa
Jakarta -

Pertanyaan:

Ingin bertanya Dok, kenapa ya saya tidak kunjung hamil? Padahal sudah hampir 2 tahun menikah dan tidak pernah KB.

Usia saya 29 tahun dan suami 30 tahun. Apakah saya harus melakukan pemeriksaan tertentu?

Nurha Kiki (Wanita, 29 tahun)

Jawaban:

Halo Ibu Kiki, terima kasih atas pertanyaannya.

Memiliki buah hati menjadi salah satu impian Ibu Kiki dan pasangan ya? Pasangan yang telah menikah satu tahun dan berhubungan teratur tanpa alat kontrasepsi tapi belum juga dikaruniai keturunan dapat diindikasikan mengalami masalah kesuburan atau infertilitas. Oleh karenanya, tidak ada salahnya untuk segera melakukan pemeriksaan kesuburan, apalagi Ibu dan suami sudah menikah 2 tahun.

Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi & reproduksi ini sangat penting untuk mengevaluasi dan memastikan ada-tidaknya gangguan kesuburan. Pemeriksaan ini tidak hanya dilakukan pada wanita (istri) selaku pemilik rahim, tapi juga harus melibatkan pasangannya (suami).

Dari hasil pemeriksaan inilah dokter akan dapat menentukan terapi dan penanganan kesuburan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasangan.

Adapun pemeriksaan fertilitas pada wanita terdiri dari:

1. Pemeriksaan Darah

Guna mengetahui ada tidaknya ovulasi, selain dari riwayat siklus menstruasi Ibu Kiki, tes darah berupa tes hormon progesteron dapat dilakukan pada hari tertentu dalam siklus menstruasi Ibu. Tes hormon lainnya juga dapat dilakukan untuk melihat beberapa kandungan dalam darah, seperti Lutenizing Hormone/LH, Follicle Stimulating Hormone/FSH, prolaktin, dan estradiol yang juga berperan dalam proses reproduksi.

2. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan dengan USG dapat menentukan ada atau-tidaknya kelainan uterus (rahim), saluran telur, serta ovarium (indung telur).

3. Histerosalpingografi (HSG)

HSG dilakukan untuk mengevaluasi kondisi rongga rahim dan saluran telur. Pemeriksaan ini dapat mengungkapkan sejumlah kondisi, seperti penyumbatan saluran telur, pembengkakan saluran telur, ataupun kelainan bentuk rahim yang mungkin Ibu alami.

4. Histeroskopi

Proses histeroskopi menggunakan tabung fleksibel panjang (hysteroscope), yang melewati leher rahim untuk mencapai ke dalam rongga rahim. Metode ini digunakan apabila didapatkan kecurigaan abnormalitas dalam rongga rahim Ibu Kiki dari hasil HSG ataupun USG, seperti mioma, polip, atau jaringan parut dalam rahim.

5. Laparoskopi

Laparoskopi hanya dilakukan apabila pemeriksaan sebelumnya menunjukkan kecurigaan kelainan pada organ tertentu atau jika penyebab gangguan kesuburan tidak dapat ditemukan. Masalah yang paling umum yang dapat diidentifikasi dengan laparoskopi adalah endometriosis, serta penyumbatan atau penyimpangan pada saluran tuba dan rahim.

Sedangkan pemeriksaan fertilitas untuk suami Ibu Kiki umumnya meliputi:

1. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik lengkap diperlukan jika memang tidak ada kondisi medis yang muncul. Struktur yang dievaluasi meliputi penis, skrotum, testis, epididimis, spermatic cord, vas deferens, prostat, vesika seminalis, dan kelenjar Cowper's.

2. Analisis Sperma

Analisis sperma merupakan pemeriksaan utama fertilitas pria untuk mengukur keberadaan gangguan produksi sperma atau kualitas sperma yang menyebabkan gangguan kesuburan. Parameter utama yang dilihat adalah konsentrasi, pergerakan (motilitas) sperma, dan morfologi sperma, selain dari parameter lainnya.

3. Pemeriksaan Darah

Pemeriksaan darah dilakukan dengan mengukur kadar FSH dan testosteron dalam darah. Pada pria, FSH berperan dalam spermatogenesis (pembentukan sperma). Testosteron berperan dalam spermatogenesis dan stimulasi libido.

4. Pencitraan

Pencitraan USG dapat digunakan untuk menemukan gejala gangguan kesuburan secara lebih mendalam. Bagi pria, USG testis/buah zakar dapat digunakan untuk mendeteksi kelainan kongenital dan kelainan obstruktif yang menghambat transportasi sperma. USG testis merupakan pemeriksaan non-invasif awal. Pemeriksaan ini kerap dilakukan bersamaan dengan analisis sperma dan digunakan untuk mengetahui kelainan sistem reproduksi pria termasuk testis dan struktur ekstratestikuler seperti epididimis.

5. Pemeriksaan Genetik

Pengujian genetik dapat dilakukan pada pria yang spermanya kurang serta tidak menunjukkan bukti adanya penyumbatan. Pengujian genetik dapat membantu mengidentifikasi fragmentasi DNA, kerusakan kromosom, atau kemungkinan penyakit genetik yang dapat diwariskan kepada keturunan nantinya.

Semoga penjelasan saya dapat membantu Ibu Kiki dan suami ya. Jangan sungkan untuk melakukan pemeriksaan kesuburan untuk menemukan penyebab gangguan kesuburan yang Ibu Kiki dan suami alami.

Penanganan gangguan kesuburan dan program hamil nantinya juga akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan kesuburan Ibu Kiki dan suami. Semangat terus ya Bu, semoga segera #garisdua! Terima kasih.

dr Shanty Olivia Jasirwan, SpOG-KFER
Spesialis Kebidanan & Kandungan RS Pondok Indah IVF Centre dan RS Pondok Indah-Puri Indah

Tentang Konsultasi Kesehatan

Pembaca detikcom yang memiliki pertanyaan terkait berbagai masalah kesehatan dapat mengirimkan pertanyaan ke email redaksi@detikhealth.com dan akan dijawab oleh pakar yang kompeten. Kirimkan pertanyaan dengan subjek email "konsultasi pembaca" disertai keterangan nama, usia, dan jenis kelamin.

Identitas penanya bisa ditulis terang atau disamarkan, disesuaikan dengan keinginan pembaca. Seluruh identitas penanya kami jamin akan dirahasiakan.



Simak Video "Pusat Veteriner Farma Surabaya Tengah Kembangkan Vaksin PMK "
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)