Senin, 23 Mei 2022 15:00 WIB

Kepincut Ingin Menikah dengan Sepupu? Ini Risiko yang Wajib Kamu Tahu

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
tourist in paris at the arch du triomphe Berbagai risiko yang terjadi jika menikah dengan sepupu. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/franckreporter)
Jakarta -

Rasa ketertarikan pada orang lain tentu tidak bisa dihindari. Ini juga mungkin bisa dirasakan pada orang yang memiliki hubungan darah, misalnya sepupu. Tak jarang hubungan 'saudara sepupu' bisa menjadi 'suami-istri'.

Pernikahan sepupu ini juga disebut sebagai consanguineous marriage. Secara umum, consanguineous marriage juga diterjemahkan sebagai perkawinan sedarah.

Ternyata, menikah dengan sepupu juga memiliki sejumlah risiko. Terutama pada anak yang dihasilkan dari hubungan tersebut.

Kemungkinan Muncul Masalah Genetik

Dikutip dari Popular Science, sepupu pertama berbagi 12,5 persen DNA mereka. Itu sebabnya anak yang dihasilkan dari perkawinan sepupu pertama memiliki bagian yang cukup besar dari gen yang tampak serupa, dan tentunya bisa menimbulkan masalah.

Jika ibu memiliki sedikit masalah pada genetik, sementara ayah tidak ada, kemungkinan besar anak tidak akan mendapatkan masalah genetik. Jika ayah memiliki masalah genetik tertentu, gen dari ibu yang sangat berbeda bisa memberikan perlindungan untuk anak.

Tetapi, jika ibu dan ayah memiliki gen yang similar atau serupa, kedua versi itu akan tumpang tindih. Diperkirakan, 4 hingga 7 persen anak yang lahir dari pernikahan sepupu pertama ini mempunyai kecacatan lahir.

Namun, jika pernikahan kerabat jauh risikonya hanya 3 persen.

Masalah yang sebenarnya akan muncul jika generasi anak-anak berikutnya juga menikahi sepupu pertama mereka. Keturunan mereka akan memiliki lebih banyak kesamaan pada DNA, dan kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami cacat lahir.

Risiko Penyakit Genetik Bersifat Autosomal Recessive

Dalam rubrik konsultasi detikHealth, pakar genetika Teguh Haryo Sasongko menjelaskan pernikahan dengan sesama kerabat hingga sepupu II (great grandparents yang sama) atau consanguineous marriage meningkatkan risiko anak mengalami penyakit genetik, terutama yang bersifat autosomal recessive.

"Penelitian-penelitian secara populasional menunjukkan bahwa anak-anak hasil perkawinan sedarah ini memiliki risiko lebih besar menderita penyakit-penyakit genetik tertentu. Terutama yang sifat penurunannya autosomal recessive," tulis Teguh Haryo.

"Sementara itu karena orang-orang dalam satu keluarga memiliki proporsi materi genetik yang sama, maka suami istri yang memiliki hubungan saudara juga memiliki risiko membawa materi genetik yang sama," lanjutnya. SELENGKAPNYA BACA DI SINI.

Salah satu kelainan genetik yang bersifat autosomal recessive adalah Thalasemia. Ini mempengaruhi hemoglobin yang menyebabkan pengidapnya kekurangan sel darah merah, hingga bisa membutuhkan transfusi darah seumur hidup.

Risiko Munculnya Penyakit Lain

Spesialis penyakit dalam dari Junior Doctor Network Indonesia dr Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD-KPs juga mengungkap penyakit lain yang bisa muncul akibat pernikahan antara pasangan yang memiliki hubungan saudara, seperti antarsepupu adalah hemofilia.

"Ada beberapa orang yang kalau kita lihat riwayat perdarahan, kalau dia berdarah, itu sulit berhenti. Kalau normal kan darah itu berhenti 1-2 menit, ada beberapa orang dengan hemofilia perdarahan enggak berhenti-henti," ungkap pria yang akrab disapa dr Koko ini dalam program e-Life dan ditulis, Sabtu (14/5/2022).

"Kalau ada riwayat seperti ini terjadi, maka dalam satu keluarga itu sebaiknya tidak melakukan pernikahan dekat. Karena risikonya nanti di anak mengalami hemofilia menjadi lebih besar," lanjutnya.



Simak Video "Risiko dari Pernikahan dengan Sepupu"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)