Jumat, 27 Mei 2022 16:38 WIB

Aritmia, Penyebab Henti Jantung yang Tak Boleh Disepelekan

Sponsored - detikHealth
Ilustrasi Jantung Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Dari banyaknya kasus seseorang yang meninggal mendadak, serangan jantung kerap disebut sebagai penyakit penyebab. Tak pandang bulu, bahkan beberapa atlet kerap diberitakan mengalami henti jantung saat sedang bertanding. Satu hal yang perlu diketahui, henti jantung adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh Aritmia.

Aritmia merupakan sebuah situasi yang menunjukkan adanya gangguan irama jantung pada sistem kelistrikan jantung. Alhasil, denyut jantung pun menjadi lebih lambat (bradikardi), lebih cepat (takikardi), atau tidak beraturan. Padahal seharusnya denyut jantung dikendalikan oleh sistem kelistrikan, sehingga dapat berdenyut dengan irama yang teratur. Adapun dalam kondisi normal, jantung akan berdenyut 60-100 kali/menit.

Ketika irama jantung tidak berdenyut dengan normal, jantung tidak dapat memompa darah sebagaimana mestinya dan mengakibatkan gangguan asupan darah ke organ tubuh lainnya. Kondisi inilah yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan organ penting lainnya.

Meski tak selalu ditunjukkan dengan tanda yang sama, setiap orang bisa saja mengalami gejala aritmia. Sebab hal ini dipengaruhi juga oleh jenis aritmia yang dialami. Namun, gejala yang umum dirasakan adalah jantung berdebar (palpitasi), nyeri dada beberapa menit, sesak napas, mudah lelah, keringat dingin, mual dan pusing, hingga merasa akan pingsan dan nyeri di organ tubuh bagian atas, seperti punggung, leher, rahang dan perut. Jika terlambat ditangani atau mendapat perawatan tepat, aritmia dapat menyebabkan henti jantung yang dapat berujung pada kematian.

Aritmia biasanya muncul saat olahraga, stres, atau setelah terpapar kafein, nikotin, dan obat-obatan tertentu. Untuk itu, beberapa orang yang memiliki kemungkinan mengalaminya adalah mereka yang sedang berolahraga/atlet, para perokok aktif, penderita obesitas dan kolesterol tinggi, penderita hipertensi, serta keluarga dengan riwayat penyakit jantung.

Selain bisa berujung dengan kematian, aritmia juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami stroke 4-5 kali lebih besar dibanding yang tidak mengalami aritmia. Hal ini sesuai dengan data dari CDC (Centers for Disease Control), yaitu sebuah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, dari badan Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat pada tahun 2017 yang menyebutkan aritmia menyebabkan stroke iskemik sebesar 15-20%.

Aritmia bisa terjadi pada siapa saja, bahkan beberapa orang tak bisa lepas dari risiko ini karena memiliki riwayat jantung dalam keluarga. Meski demikian, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya henti jantung, di antaranya mengontrol tekanan darah dan kolesterol dalam tubuh secara rutin, mengelola stres dengan baik, olahraga rutin, dan sebisa mungkin berhenti merokok.

Selain itu, kita juga bisa melakukan pemeriksaan tentang potensi Aritmia dalam diri dengan dokter yang ahli di bidangnya. Salah satunya, dokter di Mayapada Hospital Surabaya yaitu dr. Rerdin Julario, SpJP(K).

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia dan Intervensi ini mengatakan dalam mendiagnosa Aritmia dokter akan mengevaluasi gejala dan riwayat medis pasien melalui pemeriksaan fisik dan penunjang. Mulai dari Elektrokardiografi (EKG), Treadmill Test, Holter Monitor, dan Electrophysiology Study (EP Study).

"Electrophysiology Study adalah golden standard untuk mendiagnosa aritmia. Dengan pemeriksaan ini, dapat dipetakan aktivitas listrik jantung sehingga titik penyebab gangguan kelistrikan jantung dapat diketahui. Berdasarkan hasil EP Study dapat ditentukan jenis aritmia dan terapi yang dibutuhkan untuk mengembalikan irama jantung normal," ungkap dr. Rerdin dalam keterangan tertulis, Jumat (27/5/2022).

Sementara itu, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia Mayapada Hospital Tangerang, dr. Agung Fabian Chandranegara, SpJP(K) menambahkan jika penanganan aritmia disesuaikan dengan jenis aritmia yang dialami pasien.

"Tindakan berupa pemasangan alat pacu jantung atau pacemaker biasanya digunakan untuk kasus aritmia di mana jantung berdenyut lebih lambat dari normal. Tindakan lain yaitu ablasi jantung merupakan tindakan untuk mengoreksi aritmia dengan cara memasukan kateter melalui pembuluh darah sampai ke jantung," jelas dr. Agung.

"Elektroda pada ujung kateter dilengkapi dengan energi radiofrekuensi untuk mengatasi titik tertentu pada jantung yang menyebabkan aritmia sehingga jantung dapat kembali berdenyut normal," sambungnya.

Sebagai penyakit penyebab kematian tertinggi, henti jantung perlu diwaspadai dan dihindari dengan penanganan yang serius. Untuk itu, Kardiologi Center Mayapada Hospital telah menyediakan layanan komprehensif bagi pasien yang ingin melakukan pemeriksaan potensi Aritmia.

Layanan ini meliputi evaluasi gejala juga pengecekan riwayat medis pasien melalui pemeriksaan fisik dan fasilitas alat penunjang yang lengkap, seperti Elektrokardiografi (EKG), Treadmill Test, Holter Monitor, dan Electrophysiology Study (EP Study). Selain itu, pelayanannya ditangani langsung oleh tim dokter subspesialis yang ahli dan kompeten di bidangnya, yakni Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia.

Untuk konsultasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi lewat link berikut ini.



Simak Video "Pasang Iklan Murah dan Mudah? Adsmart by detiknetwork Aja!"
[Gambas:Video 20detik]
(Content Promotion/Mayapada Hospital)