ADVERTISEMENT

Jumat, 10 Jun 2022 13:46 WIB

BA.4 dan BA.5 Diduga Bikin COVID-19 RI Ngegas Lagi, Ini Sorotan Epidemiolog

Vidya Pinandhita - detikHealth
Total jumlah pasien yang terkonfirmasi positif akibat virus corona pada hari ini menjadi 4.667.554 orang. DKI Jakarta jadi penyumbang kasus terbanyak. Epidemiolog menjelaskan pentingnya penggencaran vaksinasi COVID-19 booster terkait penyebaran subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 sudah masuk Indonesia. Diketahui, kedua subvarian Omicron ini menjadi pemicu kekhawatiran ledakan kasus COVID-19 di Singapura. Menkes menyebut, sudah terdapat empat kasus di RI yang teridentifikasi di Bali sejak Kamis malam (9/6/2022).

Diduga, kedua subvarian Omicron ini memicu kembali meningkatnya kasus COVID-19 di RI sepekan terakhir. Terlebih mengingat, BA.4 dan BA.5 disebut bisa 'lolos' dari imunitas oleh vaksin COVID-19.

"Kenaikan sesudah hari raya itu antara 27 hari sampai 35 hari, sejak hari raya besar Natal ataupun Lebaran, ini Lebaran kita kan kemarin 2 Mei, kok nggak naik, ya belum naik, karena kan biasanya kejadiannya 27 sampai 35 hari jadi kenaikan itu pertama normal setiap hari raya besar pasti ada kenaikan," ujar Menkes saat ditemui di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jumat (10/6).

"Kemudian yang kedua, kita juga ada varian baru, varian baru juga sudah kita identifikasi tadi malam, tapi itu sebenarnya kejadiannya di akhir bulan Mei. Nah dari dua fakta itu memang pasti akan ada kenaikan," imbuhnya.

Kebut Vaksinasi COVID-19 Booster

Terkait kembali meningkatnya kasus COVID-19 RI, epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyorot subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang diketahui menyebar lebih cepat dibandingkan varian Delta. Untuk itu Dicky menegaskan, penting untuk menggencarkan vaksinasi COVID-19 booster atau dosis ketiga.

"Imunitas yang terbentuk dari tiga dosis ini tampaknya yang paling memadai saat ini untuk meredam Omicron dan subvariannya. Kecenderungannya, cakupan vaksinasi tiga dosis ini yang harus kita kejar," terang Dicky pada detikcom, Jumat (10/6/2022).

"Definisi 'full' dari vaksinasi ini untuk COVID-19, tampaknya mengarah ke tiga dosis itu. Masalahnya, berbahayanya adalah cakupan tiga dosis kita masih sangat rendah," sambungnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT