ADVERTISEMENT

Selasa, 21 Jun 2022 17:34 WIB

COVID-19 RI Naik Gegara BA.4 dan BA.5, Warga Sudah Perlu Vaksin Dosis-4?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Partai NasDem menggelar vaksinasi booster untuk warga lansia di Jakarta. Tak hanya gelar vaksinasi booster, NasDem juga gelar vaksinasi biasa untuk anak-anak. PB IDI menjelaskan alasan Indonesia belum perlu buru-buru memberikan vaksin COVID-19 dosis-4. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Seiring Indonesia yang kini diterpa kenaikan kasus COVID-19 imbas subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, muncul wacana pemberian vaksin COVID-19 dosis-4 alias booster kedua. Namun, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menegaskan kini belum waktunya Indonesia buru-buru memikirkan vaksin dosis-4. Kenapa?

Anggota Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular Pengurus Besar (PB) IDI dr Erlina Burhan menyebut, hingga kini cakupan vaksinasi COVID-19 booster atau dosis ketiga di Indonesia baru mencapai 23 persen. Walhasil, vaksin COVID-19 yang ada kini perlu diprioritaskan bagi masyarakat yang belum beroleh dosis vaksin lengkap lebih dulu.

"Cakupan saat ini hanya 23 persen, seharusnya saat ini yang ditingkatkan karena jangan buru-buru booster keempat. Kita harus melindungi dulu yang selama ini belum divaksin," ujarnya dalam Media Briefing Kewaspadaan Kenaikan Kasus COVID-19 dan Penyakit Menular Lainnya di Sekretariat PB IDI, Jakarta Pusat, Selasa (21/6/2022).

Pun kelak booster kedua akan diberikan, dr Erlina menyarankan didahulukan bagi para tenaga kesehatan yang berhadapan langsung dengan pasien COVID-19. Sementara ini, sebaiknya vaksinasi COVID-19 difokuskan dulu pada pemberian dosis ketiga alias booster pertama.

"Booster kedua ini mungkin bisa dilakukan terbatas karena kita hanya melihat logistik. Kalaupun ada wacana booster kedua, saya kira diprioritaskan untuk tenaga kesehatan yang langsung menangani COVID. Karena paparan mereka jauh lebih banyak, jadi mesti menjaga juga nakes supaya mereka bisa lebih terlindungi," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut juga, dr Erlina menyampaikan rekomendasi terhadap pemangku kebijakan yakni gubernur dan bupati untuk mengupayakan peningkatan cakupan vaksinasi booster. Mengingat hingga kini, cakupan vaksinasi booster di Indonesia baru mencapai 23 persen.

Proteksi Vaksin COVID-19 Menurun Dalam Hitungan Bulan

Menanggapi proteksi vaksin COVID-19 yang diyakini menurun dalam waktu enam bulan pasca disuntikkan, dr Erlina menegaskan, vaksin COVID-19 memang tidak bekerja sendiri. Agar proteksi efektif, vaksin COVID-19 perlu dibarengi penerapan protokol kesehatan.

"Vaksinasi itu tidak bisa berdiri sendiri. Bukan hanya vaksinasi mencegah orang sakit, tapi juga jumlah virus yang masuk. Vaksinasi oke membuat antibodi terbentuk, tapi kalau kemudian kita terpapar terus-menerus karena nggak pakai masker, akan sakit juga. Vaksinasi bukan satu-satunya, tidak bisa menjadi satu-satunya. Tapi dilengkapi protokol kesehatan," jelasnya.

"Oke kita divaksinasi, setelah beberapa bulan hilang, enam bulan, delapan bulan, satu tahun itu menurun. Sehingga perlu booster tapi itu tidak menjamin. Tetap prokes perlu ada," pungkas dr Erlina.



Simak Video "Vaksin Booster Bakal Jadi Syarat Masuk Mal, Begini Respons Masyarakat"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT