ADVERTISEMENT

Kamis, 23 Jun 2022 09:34 WIB

Kasus COVID-19 RI Nyaris 2.000, Eks Petinggi WHO Ungkap 5 'Biang Keroknya'

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Pemerintah menyebut Indonesia akan menghadapi gelombang varian Omicron baru. Peningkatan kasus Omicron disebut lebih cepat berkembang ketimbang COVID-19 varian Delta. Eks petinggi WHO mengungkap lima biang kerok COVID-19 RI kembali ngegas, nyaris dua ribu kasus per hari. (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Kasus harian COVID-19 di Indonesia per 22 Juni 2022 tercatat sebanyak 1.985 kasus. Ini menjadi penambahan tertinggi sejak kasus COVID-19 harian yang sempat menurun di bawah 1.000 pada April lalu.

Melihat ini, mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Profesor Tjandra Yoga Aditama meminta agar masyarakat lebih waspada lagi.

"Per 22 Juni kemarin tercatat hampir 2.000 kasus baru COVID-19," kata Prof Tjandra dalam pesan yang diterima detikcom pada Kamis (23/6/2022).

"Padahal per 22 Mei kasus baru 227 orang dan 23 Mei 174 orang. Jadi, dalam 1 bulan naik sekitar 10 kali lipat, tinggi sekali dan jelas perlu kewaspadaan," lanjutnya.

Prof Tjandra juga mengungkapkan lima hal yang perlu diwaspadai saat kasus COVID-19 masih melonjak, yakni:

1. Rendahnya Jumlah Tes

"Pertama, jelas COVID-19 masih 'unpredictable', dan rendahnya jumlah test (dan pemeriksaan WGS) akan membuat kita makin sulit menilai perkembangan perangai virus," bebernya.

"Ini juga sebabnya WHO menyebut ada 3 skenario virus di 2022 (base, best, worse), dan kita belum tahu mana yang akan terjadi," ujar dia.

2. Masker Masih Diperlukan

Prof Tjandra mengatakan di situasi kasus COVID-19 yang melonjak lagi, ia menegaskan penggunaan masker terlebih di luar ruangan masih sangat diperlukan. Terutama untuk kelompok yang paling berisiko.

"Ada dua jenis risiko penularan. Pertama, pada mereka yang lansia, komorbid, gangguan imun. Kedua, pada keadaan dimana risiko penularan lebih besar (kerumunan banyak orang, kontak dengan mereka yang bergejala). Tentu prokes secara umum harus jadi perhatian," jelasnya.

3. Surveilans yang Ketat

Hal ketiga adalah upaya surveilans yang ketat dan penyelidikan epidemiologi (PE) di lapangan harus ditingkatkan. Ini dilakukan sebagai bentuk pengendalian kasus COVID-19.

"Kalau bisa semua atau hampir semua kasus baru tersedia data dari mana dan bagaimana sehingga sampai tertular," tutur dia.

4. Vaksinasi Corona

"Keempat adalah vaksinasi lengkap, kita masih 60-an persen (nomor dua terendah di ASEAN, hanya di atas Myanmar), dan booster bahkan masih 23-an persen. Jelas harus ada upaya khusus untuk ditingkatkan," beber Prof Tjandra.

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT