Fakta di Balik WHN Umumkan Cacar Monyet Berstatus Pandemi

ADVERTISEMENT

Fakta di Balik WHN Umumkan Cacar Monyet Berstatus Pandemi

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Sabtu, 25 Jun 2022 05:00 WIB
4K Resolution, Accidents and Disasters, Aggression, Backgrounds
Foto: Getty Images/iStockphoto/blackdovfx
Jakarta -

Sebuah badan atau organisasi bernama Jaringan Kesehatan Dunia atau World Health Network (WHN) tiba-tiba menetapkan penyakit cacar monyet sebagai pandemi. Keputusan ini muncul setelah terdapat 3.417 kasus cacar monyet yang dilaporkan di 58 negara.

Dalam pernyataannya, WHN menyebut tingkat kematian akibat cacar monyet lebih rendah dari penyakit cacar. Jika tindakan pencegahan penularan tidak segera dilakukan, mereka memprediksi jutaan orang akan meninggal dan lebih banyak lagi yang menjadi buta serta cacat.

"Wabah ini berkembang pesat di berbagai benua dan tidak akan berhenti tanpa tindakan global bersama. Wabah tidak akan berhenti tanpa tindakan global," tulisnya yang dikutip dari laman resmi WHN, Jumat (24/6/2022).

WHN menilai sangat penting untuk segera menetapkan wabah cacar monyet sebagai pandemi. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyakit ini semakin meluas ke seluruh dunia.

"Tidak ada pembenaran menunggu pandemi monkeypox berkembang lebih jauh. Waktu terbaik untuk bertindak adalah sekarang. Dengan mengambil tindakan segera, kita dapat mengendalikan wabah dengan sedikit usaha, dan mencegah konsekuensi menjadi lebih buruk," kata President of New England Complex System Institute sekaligus salah satu pendiri WHN, Yaneer Bar-Yam, PhD.

Dikutip dari laman resminya, WHN merupakan jaringan kolaborasi antara tim peneliti dan warga negara yang memberdayakan tindakan untuk mempromosikan kesehatan dan mencegah bahaya. Jaringan ini bersifat independen, artinya tidak terikat dengan badan politik atau pemerintah.

NEXT: Anggota Dari WHN

WHN terdiri dari tim penasihat dan advokasi ilmiah independen, serta inisiatif aksi warga. Para anggota dari WHN ini juga terlibat dalam komunikasi publik untuk mempromosikan kesehatan individu dan masyarakat.

"Anggota kami telah memandu upaya eliminasi yang berhasil, menasihati pemerintah, membangun platform data yang dapat diakses, mengadvokasi tindakan pencegahan di udara dan keselamatan sekolah, menghasilkan dokumen konsensus ilmiah, dan terlibat dalam komunikasi publik dan upaya berbasis komunitas untuk mempromosikan kesehatan individu dan masyarakat," jelasnya.

Adapun sekitar 43 organisasi yang bergabung di dalam WHN, di antaranya:

  • COVID ACTION GROUP
  • Long COVID Ireland
  • End Coronavirus.org
  • WHWB (Workplace Health Without Borders)
  • Zero COVID Canada
  • EveryDoctor
  • National Nurse United
  • GreenZones.org

Namun, pakar epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia menegaskan bahwa WHN ini tidak berwenang untuk menetapkan status pandemi pada sebuah penyakit. Menurutnya, adanya nama 'World Health' pada jaringan tersebut bukan berarti menandakan bahwa WHN adalah sebuah organisasi yang kompeten.

"Nggak ada kaitan. Hanya karena ada nama 'World Health' bukan berarti organisasi kompeten," tegas Dicky melalui pesan singkat pada detikcom.

"Anggotanya bersifat individu, dan pernah mengeluarkan perhitungan nyeleneh sekaligus keliru tentang tren pertumbuhan monkeypox. Dan terbukti salah besar," pungkasnya.

(mfn/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT