ADVERTISEMENT

Minggu, 26 Jun 2022 07:05 WIB

Kemenkes Minta RS Waspada! Gejala Sedang Omicron BA.4-BA.5 Cukup Tinggi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Hospital COVID
Healthcare workers during an intubation procedure to a COVID patient Ilustrasi pasien Omicron. (Foto: Getty Images/Tempura)
Jakarta -

Omicron baru BA.4 dan BA.5 terus menyebar di Indonesia, jumlahnya per Kamis (24/6) sudah mencapai 143 kasus. Tersebar di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, hingga Bali.

Dari total tersebut, Kemenkes RI menjabarkan gejala COVID-19 keduanya didominasi ringan hingga sedang. Tercatat satu pasien di antaranya meninggal dunia, dan satu pasien berada di kategori berat.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Maxi Rein Rondonuwu meminta kesiapan rumah sakit terkait tren awal kedua subvarian Omicron baru. Pasalnya, persentase kasus COVID-19 bergejala sedang terpantau cukup tinggi.

"Yang menonjol BA.4 dan BA.5 adalah gejala ringan dan sedang cukup tinggi," beber Maxi kepada detikcom Sabtu (25/6/2022).

Dari total 21 pasien subvarian Omicron BA.4, ada sembilan di antaranya yang bergejala sedang atau 42,86 persen dari total kasus. Sementara pada pasien subvarian Omicron BA.5 tercatat 46,72 persen dari 122 pasien mengeluhkan gejala sedang atau 57 pasien.

"Perlu kewaspadaan dan kesiapan RS," tegas dia.

Puncak Omicron BA.4 dan BA.5

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin RI sebelumnya memperkirakan puncak kasus Omicron BA.4 dan BA.5 akan tiba di akhir Juli dengan kasus harian sepertiga dari puncak Omicron sebelumnya 60 ribu, yakni berada di 20 ribu kasus per hari. Menurut sejumlah ahli, salah satunya epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia, masa krisis Omicron baru BA.4 dan BA.5 akan bertahan lebih lama setidaknya satu hingga dua bulan.

"Kenaikan COVID-19 ini jelas akan berlangsung ya setidaknya satu dua bulan lah ya, tapi ini berbeda dengan waktu Delta ya, hanya pada kelompok-kelompok yang rawan populasi berisiko tinggi seperti lansia, komorbid, ataupun yang cakupan vaksinasi masih minim itu yang paling berbahaya," beber Dicky baru-baru ini.

"Dan ini setidaknya kita akan menghadapi masa rawan ya Agustus lah paling tidak, ini berbalik juga pada bagaimana kita memitigasinya," sambung dia.



Simak Video "Kasus Harian Covid-19 Jepang Tembus 100.000"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT