Jadi Gejala Dominan, Ini Ciri Sakit Kepala Gegara Corona BA.4 dan BA.5

ADVERTISEMENT

Jadi Gejala Dominan, Ini Ciri Sakit Kepala Gegara Corona BA.4 dan BA.5

Vidya Pinandhita - detikHealth
Sabtu, 02 Jul 2022 19:30 WIB
Virus In Red Background - Microbiology And Virology Concept
Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7
Jakarta -

Sejumlah negara termasuk Indonesia kembali menghadapi lonjakan kasus COVID-19. Kali ini, imbas merebaknya subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. Pada gelombang kali ini, mayoritas pasien COVID-19 tak mengalami gejala demam, melainkan sakit kepala.

Hal tersebut dikemukakan oleh aplikasi studi ZOE COVID. Mengacu pada aplikasinya, sebanyak 69 persen pasien COVID-19 mengeluhkan gejala sakit kepala.

Juga pada banyak kasus, sakit kepala pada pasien COVID-19 bertahan lama, bahkan menetap hingga pasien sudah sembuh dari infeksi virus Corona. Walhasil, sakit kepala menjadi gejala paling banyak pada kasus 'Long COVID'.

"Data kami menunjukkan bahwa sakit kepala ini sering datang dan pergi, tetapi untungnya mereka secara bertahap berkurang seiring waktu," terang pihak aplikasi studi ZOE COVID, dikutip dari Times of India, Sabtu (2/7/2022).

Apa Beda Sakit Kepala COVID-19 dengan Sakit Kepala Lainnya?

Para ahli meyakini, sakit kepala akibat COVID-19 bisa terasa serupa dengan sakit kepala tegang. Sakit kepala ini bisa bertingkat ringan hingga sedang. Pada beberapa kasus, sakit kepala pada pasien COVID-19 memicu rasa tekanan di sekitar dahi atau bagian belakang kepala dan leher.

Beberapa karakteristik sakit kepala akibat COVID-19 yakni:

  • Sakit kepala sedang sampai parah
  • Nyeri berdenyut, menekan atau menusuk
  • Sakit di kedua sisi kepala
  • Tahan lebih dari tiga hari
  • Tahan atau tidak responsif terhadap obat penghilang rasa sakit biasa

Namun begitu, ZOE juga mengingatkan bahwa tak semua sakit kepala dipicu oleh COVID-19. Pasalnya, banyak kondisi sakit kepala disebabkan oleh stres, perubahan pola tidur, melewatkan makan, dehidrasi, konsumsi makanan tertentu, dan minum alkohol.

"Penting untuk diingat bahwa sakit kepala sangat umum, terutama karena banyak dari kita menatap layar begitu lama setiap hari," terangnya.

"Jadi, meski banyak orang dengan COVID-19 mengalami sakit kepala, kebanyakan orang yang sakit kepala bukan disebabkan COVID-19," pungkas pihak ZOE COVID.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT