ADVERTISEMENT

Selasa, 09 Agu 2022 11:23 WIB

Kenali Kelebihan & Manfaat Teknologi Operasi Laparoskopi untuk Pasien

Sponsored - detikHealth
Ilustrasi operasi Foto: Shutterstock
Jakarta -

Teknologi yang canggih memberi harapan bagi pasien untuk mendapatkan terapi yang lebih baik. Salah satunya dalam operasi atau pembedahan yang tak hanya melalui pembedahan terbuka, tapi juga kini sudah umum dilakukan operasi laparoskopi.

Proses ini jadi salah satu hal baru,sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran yang kini sudah semakin modern. Namun, sebelum mencari tahu kelebihan dari tindakan ini, ada baiknya kita memahami apa itu laparoskopi dan bagaimana cara kerjanya.

Apa Itu Operasi Laparoskopi?

Bedah laparoskopi adalah teknik bedah invasif minimal yang digunakan di daerah perut dan panggul. Proses ini menggunakan bantuan laparoskop -batang teleskopik tipis dengan kamera di ujungnya- untuk melihat ke dalam tubuh pasien tanpa membukanya sepenuhnya.

Tidak seperti pembedahan terbuka dengan sayatan 15-30 cm, operasi laparoskopi menggunakan satu hingga empat sayatan kecil berukuran 0,5cm -2cm. Satu untuk kamera dan yang lainnya untuk instrumen bedah atau satu port untuk kamera dan instrumen bedah (single port).

Tujuannya, untuk mengurangi luka dan perdarahan pada pasien saat operasi serta mempercepat masa penyembuhan pasca operasi (prosedur minimal invasif) atau akses minimal dengan hasil sesuai prosedur operasi yang diharapkan.

Lalu, Apakah Semua Laparoskopi Sama?

Prosedur laparoskopi ini, sebetulnya sudah berkembang di Indonesia sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Pasalnya, selain mengandalkan kecanggihan alat prosedur ini juga membutuhkan keterampilan dokter operator. Contoh, dari laparoskopi 2-dimensi berkembang menjadi 3-dimensi, dan dari ketajaman SD, HD, sampai ketajaman 4K/ultra HD sesuai dengan kemajuan teknologi.

Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Dokter Errawan Wiradisuria Sp.B-KBD, M.Kes, menjelaskan Laparoskopi yang baik itu tentu saja yang memudahkan dokter operator untuk melihat ke dalam rongga perut.

"Kalau dengan laparoskopi 2D, apalagi yang gambarnya kurang tajam, dokter memiliki keterbatasan untuk melihat organ mendekati keadaan yang aktual. Sama seperti TV, semakin jernih dan tajam gambarnya pasti lebih enak dilihat," jelas dr. Errawan dalam keterangan tertulis.

"Yang saya pakai di RS, dengan laparoskopi 3-dimensi dan ketajaman 4K ultraHD, dokter bisa melihat jaringan dengan lebih jelas, pembuluh darah juga tervisualisasi dengan baik, dan saluran-saluran kecil lainnya. Jadi gambarnya sangat detail dan clear. Sebagai contoh pada kasus bedah digestif, alat ini bisa membantu mendeteksi batas tumor, pembuluh darah usus, dan saluran empedu bila ditambahkan pewarnaan (indocyanine green)," paparnya.

Studi menunjukkan ada pengurangan waktu operasi dan kehilangan darah saat operasi yang signifikan pada pasien yang dioperasi dengan teknologi 4K ultraHD dibandingkan dengan pembedahan terbuka.

Kasus Apa Saja yang Bisa Ditangani dengan Laparoskopi?

Penyakit yang bisa ditangani menggunakan laparoskopi antara lain adalah usus buntu, batu empedu, hernia, kista, sampai kasus-kasus kanker, seperti kanker serviks, kanker usus besar, kanker/tumor hati, kanker prostat, dan perlekatan usus akibat berbagai penyebab.

Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Onkologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Dokter Tricia Dewi Anggraeni Sp.OG, Subsp.Onk, merupakan salah satu dokter yang berpengalaman melakukan laparoskopi untuk kasus-kasus penyakit organ reproduksi wanita. Mulai dari penegakan diagnosis dan tata laksana tumor kandungan jinak, seperti kista ovarium, endometriosis, mioma uteri, adenomiosis, sampai penanganan tumor kandungan ganas.

dr. Tricia menerangkan pada kanker endometrium dan serviks yang masih dini, pengangkatan rahim bisa dilakukan secara laparoskopi sehingga bekas sayatan kecil namun radikalitas operasi tetap tercapai. Menurutnya, prosedur ini diharapkan dapat mempercepat waktu pemulihan serta waktu rawat inap sehingga pasien dapat segera kembali beraktivitas pasca operasi.

"Saat ini, operasi laparoskopi sudah berkembang dari teknik 2 dimensi menjadi 3 dimensi. Kelebihan teknik tersebut, yaitu visualisasi lebih baik sehingga penggunaan alat lebih efisien dan waktu pengerjaan lebih cepat, namun tentu saja, keterampilan seorang dokter yang kompeten menentukan keberhasilan operasi," ungkap dr. Tricia.

Sementara itu, Spesialis Urologi Konsultan Urologi Onkologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Dokter Syamsu Hudaya, Sp.U (K) mengungkap laparoskopi juga bisa dilakukan pada bidang urologi atau yang berkaitan dengan saluran kemih. Baik itu untuk pengambilan batu di saluran kemih, perbaikan saluran kemih, pengangkatan kelenjar prostat, dan lain-lain sesuai indikasi klinis.

"Pada kanker prostat dan ginjal yang cukup tinggi kejadiannya di Indonesia, kami berpengalaman melakukan operasi minimal invasive dengan laparoskopi 3D/4K. Studi untuk kasus-kasus bedah urologi memang sudah membuktikan bahwa semakin advanced alat laparoskopinya, contohnya 2D versus 3D, maka outcome klinis untuk pasiennya juga lebih baik," terang dr. Syamsu.

"Pada kasus pengangkatan kelenjar prostat menggunakan laparoskop yang 3D, waktu operasinya lebih singkat dan kehilangan darahnya juga lebih sedikit. Pasiennya juga lebih cepat pulih kemampuan BAK-nya," sambungnya.

Saat ini, Mayapada Hospital telah menggunakan laparoskopi dengan teknologi terbaru, yaitu 3-dimensi dengan ketajaman 4K (ultra HD). Ditunjang dengan keahlian dokter spesialis yang berpengalaman dan alat yang canggih, pasien diharapkan mendapatkan manfaat dan penanganan yang terbaik di Mayapada Hospital.

Untuk itu, bagi pasien yang saat ini tengah mengalami kondisi kesehatan yang memerlukan operasi laparoskopi, bisa segera mengunjungi Rumah Sakit Mayapada terdekat atau berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis di Rumah Sakit Mayapada terkait gejala yang sedang dialami dengan klik pada tautan berikut Mayapada Hospital.

(Content Promotion/Mayapada Hospital)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT