ADVERTISEMENT

Rabu, 10 Agu 2022 18:01 WIB

Ada yang 'Khusus Dewasa' di Kasus Irjen Sambo, Harus Jauhkan Anak dari TV?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo akan mengumumkan tersangka baru dalam kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J. Detik-detik sebelum pengumuman tersangka, rumah Irjen Ferdy Sambo dijaga Brimob, Selasa (9/8/2022). Anggota Brimob mendatangi rumah eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. Foto: Rengga Sencaya
Jakarta -

Menko Polhukam Mahfud Md menyebut, motif Irjen Ferdy Sambo yang kini ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Brigadir J bersifat sensitif sehingga hanya boleh didengar oleh orang dewasa. Lantas, apakah anak-anak perlu sepenuhnya dihindarkan dari berita pembunuhan?

"Soal motif, biar nanti dikonstruksi hukumnya karena itu sensitif, mungkin hanya boleh didengar oleh orang-orang dewasa," kata Mahfud dalam jumpa pers di Kemenko Polhukam, Selasa (9/8/2022).

Psikolog Anak dan Keluarga Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, Psi, atau yang akrab disapa 'Nina', menjelaskan memang tidak semua jenis berita patut diakses atau didengarkan oleh anak-anak.

Pasalnya, berita bertopik pembunuhan, horor, pornografi, dan seks vulgar bisa memicu kecemasan dan ketakutan berlebih lantaran anak belum punya kemampuan yang matang dalam memahami dan menginterpretasi pesan informasi berita.

"Katakanlah (berita) pembunuhan, diberitakan sampai panjang juga meningkatkan ketakutan betapa dunia saya tidak aman ada pembunuh yang merajalela," terang Nina pada detikcom, Rabu (10/8).

"Atau bahkan ketika ini disebut bahwa ini polisi, (anak berpikir) 'ih berarti polisi tidak menjaga masyarakat malah mencelakai?' Itu kan bisa pemahaman yang salah. Padahal tidak semua polisi seperti itu. Misalnya begitu. Bisa saja anak memiliki pemahaman yang berbeda dan belum tentu baik untuk dirinya," sambungnya.

Namun begitu, anak tak perlu sepenuhnya dihindarkan dari paparan berita. Yang penting, anak diberi pengawasan dan pengarahan agar tak salah paham perihal pesan dalam berita yang baru ditonton atau didengarkan.

Pengarahan yang diberikan pun harus disampaikan dengan bahasa yang bisa dipahami anak-anak. Selain untuk meluruskan pemahaman anak, juga untuk mengingatkan anak bahwa ia tak perlu takut terhadap maraknya pemberitaan pembunuhan di televisi atau gadget. Ingatkan anak bahwa dirinya selalu aman di dalam perlindungan keluarganya.

"Misalnya tentang berita pembunuhan, (dijelaskan pada anak) ada orang yang membunuh orang lain mati padahal kan orang seharusnya menjaga orang lain tetap hidup. Seperti Itu contohnya membahasakannya. Kita juga bisa menambahkan 'kita akan tetap mengusahakan jagain kamu supaya kamu aman di dunia ini'," ujar Nina.

"Bukan kita totalitas pokoknya anak tidak boleh menonton berita (takut) entar dia kenapa-kenapa, nggak juga sih. Itu adalah bagian dari hidup kita. Cuma perlu sensitivitas saja tentang perubahan ya terjadi pada anak dan kita harus siap membahasakan ulang sesuai dengan pemahaman anak," pungkasnya.



Simak Video "Netizen Baper Lihat Pelukan Sambo-Putri, 'Stockholm Syndrome'?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT