Viral Bahas Motif Sambo Habisi Brigadir J, Amankah Jika Anak Terpapar?

ADVERTISEMENT

Viral Bahas Motif Sambo Habisi Brigadir J, Amankah Jika Anak Terpapar?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kamis, 11 Agu 2022 12:38 WIB
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo akan mengumumkan tersangka baru dalam kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J. Detik-detik sebelum pengumuman tersangka, rumah Irjen Ferdy Sambo dijaga Brimob, Selasa (9/8/2022).
Anggota Brimob mendatangi kediaman eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. Foto: Rengga Sencaya
Jakarta -

Kasus penembakan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat (Brigadir J) kini masih menjadi 'tebak-tebakan'. Menko Polhukam Mahfud Md menyebut, motif Irjen Ferdy Sambo yang kini menjadi tersangka kasus pembunuhan tersebut merupakan bahasan sensitif yang hanya boleh didengar oleh orang dewasa.

"Soal motif, biar nanti dikonstruksi hukumnya karena itu sensitif, mungkin hanya boleh didengar oleh orang-orang dewasa," kata Mahfud dalam jumpa pers di Kemenko Polhukam, Selasa (9/8/2022).

Menurut psikolog Anak dan Keluarga Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, Psi, atau yang akrab disapa 'Nina', memang terdapat topik informasi tertentu yang tidak seharusnya diakses dan ditonton anak, terlebih tanpa pengawasan dan pengarahan orangtua. Pasalnya, anak belum memiliki kemampuan yang matang untuk memahami dan menginterpretasi informasi dalam berita.

"Pada dasarnya berita itu, banyak berita kita yang tidak ramah anak. berita yang sangat tidak ramah itu yang berbau kekerasan, pornografi atau horor," terang Nina pada detikcom, Rabu (10/8).

"Kalau kekerasan termasuk bukan cuman pembunuhan tapi misalnya ada kecelakaan, bencana, apalagi ketika itu disampaikan dengan mengerikan. lalu pornografi. Kalau tindakan pelecehan seksual itu bukan pornografi, tapi maksudnya terkait seks yang vulgar," sambungnya.

Nina menegaskan, berita-berita tertentu terutama pembunuhan malah memicu kecemasan dan ketakutan pada anak. Tanpa pemahaman yang matang, besar risiko anak menjadi beranggapan bahwa dunia yang ditempatinya tidak aman.

"Katakanlah (berita) pembunuhan, diberitakan sampai panjang juga meningkatkan ketakutan betapa dunia saya tidak aman ada pembunuh yang merajalela," jelas Nina lebih lanjut.

"Atau bahkan ketika ini disebut bahwa ini (pelaku pembunuhan) polisi, (anak berpikir) 'ih berarti polisi tidak menjaga masyarakat malah mencelakai?' Itu kan bisa pemahaman yang salah. Padahal tidak semua polisi seperti itu," sambungnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT