ADVERTISEMENT

Rabu, 17 Agu 2022 19:30 WIB

Dokter Ungkap Penyebab dan Gejala Rabun Dekat yang Diidap Anak Chelsea Olivia

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Nastusha Olivia Alinskie Nastusha Olivia Alinskie (Foto: Instagram )
Jakarta -

Anak sulung Chelsea Olivia, Nastusha Olivia Alinskie mengidap rabun dekat. Ia harus melakukan berbagai perawatan di dokter mata. Seperti apa sih gejalanya?]

Chelsea Olivia belum lama ini mengatakan bahwa anak sulungnya, Nastusha Olivia Alinskie mengidap rabun dekat. Karena itu ia harus menggunakan kacamata di usianya yang belum genap enam tahun, bahkan harus menunggu dua bulan lagi untuk melihat perkembangannya.

"So, di akhir Juli ini akhirnya Nastusha harus memakai kacamata. Ditambah sudah masuk ke primary school dengan jumlah anak-anak yang sekelasnya ada banyak dan ruangan pun lebih besar. Dokter mata Nastusha mengharuskan Nastusha untuk memakai kacamata," demikian keterangan di Instagram Nastusha, dikutip Rabu (17/8/2022).

Dokter spesialis mata dari Jakarta Eye Center (JEC) Cinere, dr Zeiras Eka Djamal, SpM, menjelaskan bahwa rabun dekat atau yang disebut hypermetropia merupakan kondisi seseorang mampu melihat suatu objek pada jarak yang jauh, tetapi mengalami gangguan apabila melihat objek dekat. Kondisi ini juga bisa terjadi pada segala usia, baik dewasa maupun anak-anak.

"Rabun dekat adalah kondisi saat seseorang mampu melihat suatu objek pada jarak yang jauh namun mengalami gangguan apabila melihat objek yang dekat. Kondisi ini bisa terjadi pada segala usia dan sering dikenal dengan istilah hypermetropia," tuturnya saat dihubungi detikcom, Selasa (16/8).

Adapun gejala yang kerap dijumpai pada anak-anak, yaitu:

  • Kesulitan membaca dalam jarak dekat
  • Kelelahan pada mata
  • Susah konsentrasi saat belajar
  • Pusing

Menurut dr Zeiras, kondisi rabun dekat ini biasanya disebabkan oleh panjang bola mata yang pendek dibandingkan normal atau bisa juga akibat gangguan kelengkungan pada mata.

"Gejala yang sering dijumpai pada anak-anak selain kesulitan membaca dekat adalah adanya keluhan kelelahan pada mata, susah konsentrasi saat belajar dan pusing. Hypermetropia biasanya disebabkan oleh panjang bola mata yang lebih pendek dibandingkan normal atau bisa juga akibat gangguan kelengkungan bola mata," ucapnya lagi.

Seperti Apa Terapi Rabun Dekat?

dr Zeiras menjelaskan, terapi rabun dekat atau hypermetropia biasanya berupa terapi penggunaan kacamata atau lensa kontak. Meski begitu, perlu dilakukan pemeriksaan dan konsultasi terlebih dahulu oleh dokter untuk menentukan terapi yang terbaik buat mata anak.

"Terapi hypermetropia biasanya berupa terapi penggunaan kacamata ataupun lensa kontak. Diskusikan dengan dokter anda apakah terapi yang terbaik buat mata anak anda," imbuhnya.



Simak Video "Kasus Covid-19 di Yogyakarta Melandai, Siap Jadi Endemi?"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT