Dokter Ungkap Sederet Penyebab Tumor Payudara, Mi Instan-Seblak Termasuk?

ADVERTISEMENT

Terpopuler Sepekan

Dokter Ungkap Sederet Penyebab Tumor Payudara, Mi Instan-Seblak Termasuk?

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Sabtu, 17 Sep 2022 13:01 WIB
Viral curhatan seorang wanita mengidap tumor payudara usai terbiasa makan seblak hingga mi ayam setiap hari.
Foto: Tangkapan layar: SS Viral (atas izin yang bersangkutan)

Di sisi lain Prof Zubairi menjelaskan ada sejumlah faktor risiko penyebab tumor dan kanker payudara yang bisa diubah dan tidak. Adapun faktor yang tidak bisa diubah, seperti usia, mutasi genetik, riwayat reproduksi, bentuk payudara yang padat, hingga riwayat pengobatan radioterapi. Sedangkan faktor penyebab tumor dan kanker yang bisa diubah, di antaranya:

1. Tidak Aktif Bergerak Fisik

Prof Zubairi menjelaskan, orang yang malas bergerak atau minim keaktifan fisik bisa berisiko terkena tumor dan kanker payudara. Misalnya mereka yang jarang olahraga, terlalu banyak duduk, hingga nonton televisi.

2. Obesitas

Faktor lain, seperti overweight atau obesitas, serta obesitas yang terjadi setelah menopause juga bisa berisiko terkena kondisi ini. Prof Zubairi menjelaskan, acuan obesitas adalah Indeks Massa Tubuh di atas 30.

3. Riwayat Replacement Treatment

"Kemudian kalau ada riwayat replacement treatment, jadi pada orang yang menopause itu kadang-kadang sekitar vagina genitalianya terasa kering. Kemudian dulu orang (meminum) pil untuk memperbaiki, itu berisiko," jelas Prof Zubairi.

4. Riwayat Reproduksi dan Tidak Menyusui

"Jadi kalau mempunyai hamilnya usia 30, hamil pertama di atas usia 30 tahun berisiko lebih tinggi. Kedua, kalau tidak menyusui," ungkap Prof Zubairi.

"Berikutnya nggak pernah melahirkan bayi usia cukup. Misalnya 35 minggu sampai 37 minggu melahirkan, itu berisiko," sambungnya.

5. Konsumsi Alkohol

Terakhir, Prof Zubairi menjelaskan faktor risiko pemicu tumor dan kanker payudara yang bisa dihindari adalah konsumsi minuman alkohol.

"Kanker payudara adalah kanker yang paling banyak ditemukan di Indonesia dibandingkan kanker lain dan juga penyebab kematian utama," ungkap Prof Zubairi.


(suc/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT