Sekeluarga Tewas di Kalideres, Ini Perubahan Tubuh Hari ke Hari saat Kelaparan

ADVERTISEMENT

Sekeluarga Tewas di Kalideres, Ini Perubahan Tubuh Hari ke Hari saat Kelaparan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Sabtu, 12 Nov 2022 07:05 WIB
Ilustrasi jenazah
Geger sekeluarga tewas di Kalideres, mayat ditemukan 'mengering', disebut karena kelaparan. (Foto ilustrasi: Thinkstock)
Jakarta -

Heboh kejadian nahas sekeluarga ditemukan tewas di Kalideres, Jakarta Barat. Menurut keterangan polisi, mayat ditemukan dalam kondisi 'mengering', tidak mendapatkan asupan makanan dalam waktu yang lama.

"Di dalam lambungnya tidak ada isi makanan, artinya ini sudah berlangsung beberapa waktu yang lalu tidak ada mengkonsumsi makanan dan otot-ototnya sudah mengecil. Artinya, ini ada kekurangan cairan, dehidrasi, sehingga tubuh mayat ini menjadi kering," kata Kapolres Jakbar Kombes Pasma Royce kepada wartawan, Jumat (11/11/2022).

Efek Kelaparan

Dikutip dari Healthline, kelaparan terjadi saat seseorang tidak menerima kalori yang cukup untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Ketika tubuh manusia sangat kekurangan kalori, ia mulai berfungsi secara berbeda untuk mengurangi jumlah energi yang dibakarnya. Jika nutrisi tidak juga terpenuhi, kelaparan menyebabkan kematian.

Tanpa makan dan minum, waktu maksimal tubuh dapat bertahan diperkirakan sekitar satu minggu. Sementara tanpa makanan dan hanya minum air, waktu bertahan hidup disebut sekitar 2 sampai 3 bulan.

Seiring waktu, asupan makanan yang sangat terbatas tentu meningkatkan risiko kematian.

Kekurangan berat badan yakni memiliki indeks massa tubuh (BMI) di bawah 18,5, dikaitkan dengan kekurangan gizi dan berbagai kondisi kesehatan yang dapat menurunkan harapan hidup. Ini termasuk penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh, kondisi pencernaan, dan kanker.

Sebuah studi 2018 mengungkap BMI di bawah 18,5 dapat memperpendek peluang hidup seseorang rata-rata 4,3 tahun untuk pria dan 4,5 untuk wanita.

Kondisi Tubuh Hari ke Hari

Tentu tak pernah terbayangkan bertahan hidup selama berhari-hari atau berminggu-minggu tanpa makan dan minum. Tubuh dalam keadaaan normal memecah makanan menjadi glukosa, glukosa menyediakan energi bagi tubuh.

Selama 24 jam pertama tanpa makanan, karena penyimpanan glukosa habis, tubuh mulai mengubah glikogen menjadi glukosa. Pada hari kedua tanpa makanan, glukosa dan glikogen habis.

Setelahnya, tubuh mulai memecah jaringan otot untuk menyediakan energi. Namun, tubuh dirancang untuk menghemat otot, bukan memecahnya. Jadi fase ini memberikan energi sementara saat ada perubahan metabolisme.

Untuk mencegah kehilangan otot yang berlebihan, tubuh mulai mengandalkan simpanan lemak untuk membuat keton untuk energi, proses yang dikenal sebagai ketosis.

Selama 5 hari pertama tanpa makanan, seseorang mungkin kehilangan 1 hingga 2 kilogram berat badan setiap hari. Sebagian besar penurunan berat badan ini terkait dengan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Selama beberapa minggu kelaparan, perubahan dalam tubuh biasanya menyebabkan penurunan berat badan menjadi rata-rata 0,3 kilogram (0,7 pon) per hari.

Semakin banyak simpanan lemak yang tersedia, semakin lama seseorang biasanya dapat bertahan hidup selama kelaparan. Setelah simpanan lemak telah sepenuhnya dimetabolisme, tubuh kemudian kembali ke pemecahan otot untuk energi, karena itu satu-satunya sumber bahan bakar yang tersisa dalam tubuh.

Pada fase ini, seseorang akan mulai mengalami gejala buruk yang parah karena tubuh menggunakan cadangan ototnya untuk energi.



Simak Video "Kata Menkes soal WHO Tetapkan Covid-19 Jawa-Bali Level 2"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT