Disebut Arawinda Dalam Klarifikasi, Begini Efek Open Relationship Kata Psikolog

ADVERTISEMENT

Disebut Arawinda Dalam Klarifikasi, Begini Efek Open Relationship Kata Psikolog

Vidya Pinandhita - detikHealth
Sabtu, 03 Des 2022 19:00 WIB
Momen Arawinda Kirana saat nongki di cafe dan icip donat
Soal efek open relationship yang disebut Arawinda dalam klarifikasinya. (Foto: Instagram @arawindak)
Jakarta -

Pemain film, Arawinda, menyampaikan klarifikasi atas kasus perselingkuhan yang menyeret namanya. Menanggapi tudingan bahwa dirinya telah 'merebut' suami wanita lain, pihak manajemen Arawinda menyinggung adanya 'open relationship' di balik kasus perselingkuhan tersebut.

"Pria tersebut juga mengaku bahwa rumah tangganya sudah chaos hampir 5 bulan dan berpisah dengan istrinya hampir 1 bulan dan mereka berdua sepakat melakukan open relationship yang membebaskan satu sama lainnya untuk mencari pasangan lain," tertera dalam unggahan KITE Entertainment, Selasa (29/11/2022).

Terlepas dari nama pada kasus tersebut, psikolog klinis dan founder pusat konsultasi Anastasia and Associate, Anastasia Sari Dewi, menjelaskan bahwa secara umum, open relationship tidak dianggap normal dalam psikologi. Pasalnya, hubungan seharusnya mengandung tiga komponen yakni keakraban, hasrat, dan komitmen.

"Kalau dalam psikologi ditekankan, relationship yang sehat memiliki tiga komponen (yaitu) keakraban, hasrat, dan juga komitmen. Kalau salah satu tidak ada atau salah satu sedikit, itu bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi kedua belah pihak atau salah satu. Komitmen, hasrat, dan juga keakraban," jelasnya pada detikcom, Rabu (30/11/2022).

Sari menerangkan, open relationship bisa memicu efek pada pihak yang terpaksa menolerir pasangannya menjalin hubungan dengan orang lain, atau kedua belah pihak dalam hubungan. Layaknya bom waktu, open relationship akan menimbulkan penderitaan psikologis dan masalah di kemudian hari.

Lebih lanjut menurut Sari, open relationship bisa menimbulkan perasaan tidak berharga pada pihak yang membiarkan pasangannya berhubungan dengan orang lain.

"(Open relationship) bisa menimbulkan perasaan tidak berharga bagi salah satu pihak yang bertoleransi. Misalkan idenya datang dari yang perempuan, sedangkan yang laki-laki sebenarnya tidak setuju. Laki-laki ini bisa timbul rasa meragukan diri sendiri pada akhirnya terkait kepuasan seksual mungkin, dan lain sebagainya sehingga dia bisa terpengaruh harga dirinya. Itu yang kedua," beber Sari.

NEXT: Open relationship bisa jadi cara penularan penyakit menular seksual



Simak Video "Mengenal 'Love Bombing' yang Disebutkan dalam Klarifikasi Agensi Arawinda"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT