Tenang, Bayangan 'Resesi Seks' RI Tak Separah Jepang

ADVERTISEMENT

Tenang, Bayangan 'Resesi Seks' RI Tak Separah Jepang

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Selasa, 06 Des 2022 17:10 WIB
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)
Resesi seks hantui banyak negara termasuk Indonesia. (Foto ilustrasi: Getty Images/Kevin Frayer)
Jakarta -

'Resesi seks' yang dikaitkan dengan menurunnya gairah berhubungan seksual, menikah, hingga memiliki anak juga menghantui Indonesia. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo angkat bicara soal potensinya.

Hal ini disebutnya mengacu pada tren usia menikah yang semakin lama semakin mundur. Prioritas sebagian orang dari semula menikah, bergeser mementingkan jenjang karier, pendidikan, dan hal lain selain keinginan atau hasrat memiliki anak.

Kabar baiknya, potensi 'resesi seks' di Indonesia relatif panjang sehingga bisa lebih dini diantisipasi. Pasalnya, meskipun ada kemunduran usia pernikahan, banyak di antara pasangan suami istri masih berfokus pada pro kreasi atau menikah dengan tujuan memiliki anak.

"Sebetulnya kalau Indonesia nggak gitu-gitu amat, Indonesia seks itu lebih banyak ke pro kreasi, pro kreasi itu mengcreate untuk memproduksi, mendapatkan bayi, makanya kalau Anda nikah, Anda dikejar pertanyaan kapan hamilnya, kapan hamilnya. Kalau Idul Fitri sudah hamil belum? Jadi arahnya itu pro kreasi,'' beber dr Hasto saat ditemui di Hotel Shangri La, Selasa (6/12/2022).

"Coba kalau Anda di Jepang, nggak ada orang nanya gitu, kalau bapak ibunya lebih ke yasudah, yang penting be happy lah anaknya," sambung dia.

Antisipasi Resesi Seks

Terlebih, dr Hasto menyebut Indonesia memiliki program fertilitas melalui BKKBN. Membantu dan memberikan layanan untuk program kehamilan banyak orang.

dr Hasto menyebut zero growth atau nihil kelahiran baru dilaporkan sejumlah wilayah seperti Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Namun, angka fertilitas di beberapa wilayah lain bisa menutupi ketertinggalan tersebut.

''Iya harapan saya kabupaten sebelahnya masih 2,1 gitu, jadi kalau di Indonesia kan masih banyak itu cadangan provinsi dengan fertilitas tinggi, NTT itu 2,9, Aceh itu 2,7, Sumatera Barat 2,7, Sumatera Utara 2,5 lebih, jadi kita punya kantong-kantong bayi,'' pungkas dia.



Simak Video "Populasi Menurun dalam 60 Tahun, Generasi Muda China Enggan Berkeluarga"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/vyp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT