Heboh 80 Dokter Kanada Disebut Meninggal gegara Booster COVID-19, Ini Faktanya

ADVERTISEMENT

Heboh 80 Dokter Kanada Disebut Meninggal gegara Booster COVID-19, Ini Faktanya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Selasa, 24 Jan 2023 17:31 WIB
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination.
Heboh 80 dokter di Kanada disebut meninggal akibat vaksin COVID-19, begini faktanya. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Beredar sebuah video yang menyebut sebanyak 80 dokter di Kanada, Amerika Utara, meninggal dunia. Disebutkan bahwa penyebab meninggalnya dikaitkan dengan vaksin COVID-19 dosis ketiga dan keempat (booster 1 dan 2).

"Di negara Kanada, mereka memiliki lebih dari 80 dokter yang meninggal dalam enam bulan sebelumnya antara usia 25 hingga 55 tahun. Dokter medis," demikian bunyi informasi dari seorang pengguna Instagram, dikutip dari Reuters, Selasa (24/1/2023).

"Satu-satunya faktor yang berhubungan dengan semua dokter ini adalah fakta bahwa mereka telah melakukan suntikan penguat ketiga dan keempat," sambungnya.

Klaim video tersebut tampaknya didasarkan pada surat yang ditulis oleh dokter Kanada, William Makis, yang ditujukan kepada Asosiasi Medis Kanada (CMA) pada Oktober 2022. Dalam surat tersebut, Makis menunjukkan analisisnya sendiri terhadap data dari CMA dan sumber lain yang menurutnya ditemukan tingkat kematian yang lebih tinggi di antara dokter di bawah usia 50 tahun di Kanada.

Ini terjadi selama periode sejak awal penggunaan vaksin COVID-19 dan tertulis dalam surat 'Kematian mendadak 80 dokter muda Kanada sejak peluncuran vaksin COVID-19'. Makis juga mencantumkan nama 80 dokter beserta foto mereka dan detail lainnya dalam surat tersebut.

Fakta yang Terungkap

Terkait kabar tersebut, CMA mengirimkan pernyataan pada Reuters dan menyebut bahwa data yang dicantumkan Makis disebut InMemoriam. Namun, data tersebut tidak bisa menjadi bukti untuk mendukung konspirasi seputar vaksin COVID-19 itu.

"Layanan InMemoriam ditawarkan kepada anggota CMA sehingga mereka dapat melacak kolega mereka dan mengenali kepergian mereka dari waktu ke waktu," tulis CMA.

"Ini diberikan berdasarkan informasi yang dikirim ke CMA dan tidak boleh dilihat sebagai daftar lengkap kematian dokter atau sebagai bukti untuk mendukung konspirasi seputar vaksin COVID-19," jelasnya.

Setelah diperiksa lebih lanjut, dari 80 dokter yang masuk dalam daftar Makis itu tidak ditemukan adanya hal yang membuktikan bahwa kematian dokter-dokter tersebut disebabkan penggunaan vaksin COVID-19.

Sebanyak 11 dokter meninggal karena kanker. Setidaknya 4 dokter meninggal karena kecelakaan, seperti kecelakaan mobil tenggelam, dan meninggal saat menuruni gunung tertinggi kedua di dunia.

Jenazah dokter lain ditemukan setelah menghilang beberapa hari. Ada juga yang meninggal karena kelainan jantung bawaan.

Dari 80 dokter tersebut, sekitar 37 orang meninggal di atas usia 55 tahun. Selain itu, rumah sakit tempat bekerja dari tiga dokter yang masuk dalam surat Makis memastikan bahwa kematian mereka tidak terkait dengan vaksin COVID-19.

Menanggapi ini, juru bicara Health Canada and Public Health Agency of Canada mengatakan bahwa klaim terkait kematian 80 dokter akibat vaksin COVID-19 itu adalah hal yang tidak mendasar.

Sebagai kesimpulannya, tidak ada bukti yang mendukung bahwa kematian 80 dokter di Kanada itu disebabkan oleh vaksin COVID-19. Setidaknya, 12 dari 80 dokter meninggal karena penyakit kronis dan 4 orang karena kecelakaan.



Simak Video "Menkes Budi Beberkan Adanya 'Abuse of Power' Terkait Izin Praktik Dokter"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT