IDAI Beberkan Penyakit Paling Banyak Ditemukan pada Anak Korban Bencana Sumatera

Duka dari Utara Sumatera

IDAI Beberkan Penyakit Paling Banyak Ditemukan pada Anak Korban Bencana Sumatera

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Selasa, 02 Des 2025 06:00 WIB
IDAI Beberkan Penyakit Paling Banyak Ditemukan pada Anak Korban Bencana Sumatera
Foto: ANTARA FOTO/Yudi Manar
Jakarta -

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkap sejumlah penyakit yang paling banyak menyerang anak-anak di pengungsian setelah bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Peningkatan kasus ini muncul akibat kondisi lingkungan yang rusak, akses air bersih yang terbatas, serta padatnya pengungsian yang meningkatkan risiko penularan penyakit.

Wakil Ketua IDAI Sumatera Utara, Dr dr Eka Airlangga, menjelaskan bahwa di posko-posko pengungsian, penyakit yang berkaitan dengan air bersih masih menjadi keluhan terbanyak pada anak-anak. Kasus diare serta berbagai infeksi atau luka pada kulit mendominasi, terutama akibat sanitasi yang kurang memadai dan kondisi lingkungan yang serba terbatas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"itu mendominasi di lokasi pengungsian di Sumatera Utara yang sampai saat ini sudah kami tangani dengan pengelolaan pemberian air bersih di lokasi pengungsian," ucapnya dalam konferensi pers Senin (1/12/2025).

ADVERTISEMENT

Misalnya pada Desa Gohor Lama Kec Wampu Kab Langkat. Hasil skrining IDAI bekerja sama dengan Dinkes setempat menunjukkan 37 anak mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), 18 anak mengeluhkan diare, 7 anak dengan kondisi tinea, dan bacterial dermatitis yang menyerang 4 orang anak.

Kondisi yang tak jauh berbeda juga ditemukan di Desa Batu Malenggang. Dari pemeriksaan yang dilakukan pada 125 anak, 55 di antaranya mengalami ISPA, 12 anak diare, 35 anak tinea, dan 23 lainnya mengeluhkan bacterial dermatitis.

Ia mengatakan untuk penanganan terus dilakukan melalui penyediaan air bersih di area pengungsian serta pemberian obat-obatan dasar, termasuk salep untuk mengatasi masalah kulit pada anak.

Kondisi serupa juga ditemukan di wilayah pengungsian Sumatera Barat. Ketua IDAI Cabang Sumatera Barat dr Asrawati, M Biomed, Sp A, Subsp T K P S(K), FISQua, menjelaskan pihaknya baru menyelesaikan identifikasi awal di Kota Padang.

Dari dua lokasi pengungsian yang dikunjungi, ISPA tercatat sebagai kasus terbanyak pada anak.

"Infeksi saluran pernapasan atas, ada 80 kasus ya, diare 4 kasus, kemudian penyakit kulit 6 kasus, morbili 4 kasus," imbuhnya dalam acara yang sama.

Sementara data dari lokasi lain masih dalam proses pengumpulan dan belum dapat dipublikasikan.

Untuk wilayah Aceh, Ketua IDAI Cabang Aceh Dr dr Raihan, Sp A, Subsp Inf P T(K) menjelaskan bahwa pendataan masih terus berlangsung karena akses ke sejumlah daerah terdampak belum sepenuhnya terbuka.

Hingga saat ini, tim medis baru dapat menjangkau wilayah Pidie Jaya, sementara sejumlah kawasan lain masih terisolasi akibat kerusakan infrastruktur.

"Kalau di Pidie, sebelum Pidie Jaya itu Sigli Pidie, sementara tidak ada lonjakan kasus kalau di rumah sakit ya. Namun memang kami sedang, masih dalam proses pengumpulan data juga. arena ada teman kita di Pidie juga yang terdampak sampai harus mengungsi," katanya dalam acara yang sama.

Di Pidie Jaya, kasus penyakit yang dominan muncul adalah ISPA. Dalam beberapa hari terakhir, mulai muncul kasus diare, serta beberapa anak yang mengalami pneumonia atau infeksi saluran napas bagian bawah.

Selain itu, terdapat pula kasus luka-luka serupa dengan temuan di Sumatera Utara, yang dikhawatirkan dapat berkembang menjadi infeksi serius, termasuk risiko tetanus. Begitu juga, Di beberapa lokasi pengungsian yang baru dapat dijangkau, kasus yang paling banyak ditemukan juga masih didominasi oleh ISPA.

"Untuk daerah lainnya, karena tadi masih baru kita tahu akses, dan ada rumah sakit yang belum bisa beroperasi," lanjutnya.

Halaman 2 dari 3
(suc/kna)

Berita Terkait