Penyakit Kulit Intai Warga Terdampak Banjir Aceh-Sumatera, Apa Penyebabnya?

Penyakit Kulit Intai Warga Terdampak Banjir Aceh-Sumatera, Apa Penyebabnya?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Selasa, 23 Des 2025 07:45 WIB
Penyakit Kulit Intai Warga Terdampak Banjir Aceh-Sumatera, Apa Penyebabnya?
Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Jakarta -

penyakit kulit menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak menyerang warga terdampak banjir dan tanah longsor di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan angka yang cukup signifikan, pada periode 25 November hingga 21 Desember 2025, kasus penyakit kulit di Sumatera Utara bahkan menembus angka 10.102 kasus, melampaui keluhan kesehatan lainnya.

Kondisi serupa juga terpantau di Aceh dengan 9.610 kasus dan Sumatera Barat dengan 2.792 kasus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa penyakit kulit begitu dominan muncul saat fase tanggap darurat bencana?

dr Widya Khairunnisa Sarkowi, MSc, dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University, menjelaskan bahwa paparan air banjir yang telah tercemar merupakan pemicu utama.

ADVERTISEMENT

"Air banjir biasanya bercampur lumpur, sampah rumah tangga, kotoran, hingga bangkai. Kombinasi ini sangat ideal untuk menimbulkan penyakit kulit, terutama ketika warga terpapar dalam waktu lama," ujarnya dikutip dari laman IPB University, Selasa (23/12/2025).

Menurut dr Widya, ada pola umum yang selalu muncul pascabencana, yaitu dermatitis kontak, infeksi jamur, dan infeksi bakteri. Dermatitis kontak ditandai dengan kulit merah, gatal, dan perih akibat paparan air kotor atau bahan pembersih.

Jenis penyakit kulit yang bisa muncul

Sementara itu, infeksi jamur seperti kurap dan kutu air sering muncul akibat kelembapan yang tidak terkontrol di area pengungsian yang padat.

Selain infeksi langsung, luka traumatik akibat tersayat puing saat evakuasi juga menjadi pintu masuk bakteri.

"Luka tersebut mudah terinfeksi karena kondisi lingkungan yang lembap dan tidak higienis," tambah dr Widya.

Infeksi bakteri seperti impetigo hingga selulitis pun rawan muncul, terutama jika luka mulai membengkak, mengeluarkan nanah, atau disertai demam.

Sebagai perlindungan awal, dr. Widya mengimbau masyarakat untuk menerapkan prinsip "bersihkan, keringkan, dan lindungi".

Jika memungkinkan, segera mencuci bagian tubuh yang terkena air banjir dengan air bersih dan sabun, serta memastikan area lipatan tubuh tetap kering agar jamur tidak berkembang.

Halaman 2 dari 2
(kna/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads