Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN merespons fenomena konten kreator yang memutuskan menikah di usia muda, menyusul viralnya video seorang kreator bernama Azkiave yang menikah pada usia 19 tahun dengan pasangan berusia 29 tahun.
Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono menilai, pernikahan usia muda tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan pilihan pribadi atau tren media sosial, melainkan perlu dikaji dari sudut pandang demografi dan pembangunan manusia.
"Pernikahan bukan hanya peristiwa sosial, tetapi juga berkaitan erat dengan struktur penduduk, kualitas sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi," kata Budi di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu (7/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Budi, praktik nikah muda berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang apabila dilakukan ketika individu belum mencapai kematangan fisik, mental, maupun sosial. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh pasangan yang bersangkutan, tetapi juga dapat memengaruhi masyarakat secara luas.
"Nikah muda dapat berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia. Jika praktik ini meluas, dampaknya bisa terasa dalam pembangunan jangka panjang," kata dia.
Selama ini, istilah nikah muda di Indonesia kerap merujuk pada keputusan membangun keluarga sebelum seseorang benar-benar siap secara biologis, psikologis, dan sosial. Dalam konteks pembangunan, pernikahan pada usia remaja juga sering dikaitkan dengan keterbatasan akses pendidikan, kesiapan ekonomi yang minim, serta rendahnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi.
Dari perspektif demografi, usia pernikahan yang terlalu dini dinilai berkorelasi dengan meningkatnya risiko kesehatan, persoalan sosial, hingga kerentanan ekonomi. Karena itu, Kemendukbangga/BKKBN mewanti-wanti keputusan menikah dilakukan setelah calon suami dan istri mencapai kesiapan yang menyeluruh.
"Kesadaran untuk mempersiapkan pernikahan secara matang perlu menjadi perhatian bersama sebelum memutuskan untuk membangun keluarga," beber Budi.
Fenomena ini mencuat setelah warganet ramai memperbincangkan konten Azkiave bersama suaminya, Yuka. Dalam salah satu video, Azkiave menanyakan pandangan suaminya terkait langkah yang dapat diambil lulusan SMA yang tidak diterima di perguruan tinggi.
Yuka, yang juga berusia 29 tahun dan berprofesi sebagai konten kreator, menyampaikan bahwa tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bukan berarti gagal. Ia menyebut kuliah bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan.
Namun, pernyataan tersebut memicu perdebatan ketika Yuka menyebut pendidikan tinggi sebagai 'scam' atau penipuan jika tidak sesuai dengan spesialisasi yang ditekuni. Unggahan itu menuai beragam respons dari warganet, termasuk kekhawatiran bahwa narasi tersebut dapat memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap pendidikan dan pernikahan.
Kemendukbangga/BKKBN menegaskan, pilihan hidup setiap individu perlu disertai pemahaman yang utuh mengenai konsekuensi jangka panjang, terutama yang berkaitan dengan kualitas hidup dan pembangunan keluarga.










































