Pergantian tahun kerap membawa dampak psikologis bagi banyak orang. Momen bergantinya angka kalender ini sering dimaknai sebagai masa transisi dari kehidupan lama menuju fase yang baru, sekaligus memunculkan dorongan untuk berubah.
Psikolog Betsy Kurniawati Witarsa, menjelaskan adanya efek psikologis memberikan pengaruh terhadap kehidupan yang sedang transisi dari lampau menuju sesuatu yang baru.
"Tahunnya aja udah ganti, nah berarti aku gimana ya," tuturnya, dalam bincang bersama di detikSore, Rabu (31/12/2025)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilusi atau Kebutuhan Psikologis?
Tahun baru identik dengan konsep fresh start. Ada sensasi seperti tombol "reset" ditekan, memberi kesan bahwa kegagalan, kebiasaan buruk, atau penyesalan di tahun sebelumnya bisa ditinggalkan begitu saja.
"Jadi ada apa ya semacam ilusi juga sih. Bahwa kayak oh ya aku harus berubah ya gitu," tuturnya.
Efek ini disebut memiliki dampak psikologis yang nyata. Ilusi fresh start bisa menjadi pemicu awal untuk mengubah perilaku, meskipun perubahan tersebut sejatinya bisa dimulai kapan saja.
"Mungkin bagi sebagian banyak orang ya, yaudahlah this is my moment gitu kan," ucap Betsy.
Meski bukan keharusan, akhir dan awal tahun sering dijadikan titik tolak perubahan. Ada rasa syukur karena masih diberi kesempatan hidup hingga memasuki tahun yang baru, yang kemudian diikuti evaluasi diri.
Resolusi, target hidup hingga rencana besar pun bermunculan kerap dianggap keharusan. Namun, perubahan diri bisa dilakukan kapan saja, tak perlu menunggu pergantian tahun.
Proses menemukan arah hidup bersifat personal, sehingga tidak bisa disamakan dalam satu momen tertentu.
"Sebenarnya gak harus nunggu akhir tahun atau awal tahun juga sih gitu. Yang lebih apa ya dalam berarti wajib itu kan memiliki arah hidup gitu," bebernya.
(kna/kna)











































