Viral 'Broken Strings' Aurelie Moeremans, Kenapa Pelaku Grooming Cenderung Denial?

Viral 'Broken Strings' Aurelie Moeremans, Kenapa Pelaku Grooming Cenderung Denial?

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Selasa, 13 Jan 2026 10:38 WIB
Viral Broken Strings Aurelie Moeremans, Kenapa Pelaku Grooming Cenderung Denial?
Aurelie. (Foto: Instagram/@aurelie)
Jakarta -

Buku 'Broken Strings' karya Aurelie Moeremans belakangan menjadi perbincangan hangat di Tanah Air. Pasalnya, buku tersebut berisi pengalaman Aurelie terkait child grooming di usia 15 tahun.

Sebagai informasi, child grooming merupakan salah satu bentuk manipulasi psikologis yang sangat berbahaya. Pelaku secara sistematis membangun kepercayaan dan ikatan emosional dengan anak untuk tujuan eksploitasi.

Dari viralnya buku tersebut, tidak sedikit warganet yang akhirnya berani bercerita bahwa mereka pernah ada di masa-masa kelam seperti yang dirasakan Aurelie.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka juga bercerita bahwa pelaku child grooming umumnya cenderung denial dan suka marah meledak-ledak, mengapa bisa begitu?

Ditanya mengenai hal ini, spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ mengatakan bahwa penyangkalan dan luapan emosi tersebut merupakan hasil dari defense mechanism, kurangnya empati, dan rasa ingin mengontrol sesuatu.

ADVERTISEMENT

"Ini pola psikologis yang cukup konsisten," kata dr Lahargo kepada detikcom, Selasa (13/1/2026).

Berikut pola psikologi menurut dr Lahargo ysng biasanya ada pada pelaku child grooming.

1. Defense mechanism (mekanisme pertahanan diri).

Pelaku cenderung menyangkal agar:

- Tidak merasa bersalah
- Tidak runtuh harga dirinya
- Tidak menghadapi kenyataan bahwa ia melukai orang lain

2. Cognitive Dissonance

Ini adalah kondisi psikologis tidak nyaman akibat memiliki dua atau lebih keyakinan

"Ada konflik antara 'saya orang baik' vs 'saya menyakiti orang'," kata dr Lahargo.

Agar konflik ini tidak menyakitkan, otak memilih:

- Menyangkal fakta
- Menyalahkan korban
- Marah saat dikonfrontasi

3. Kontrol dan Kekuasaan

Grooming adalah tentang power. Saat kontrol itu terancam (dibongkar publik), pelaku akan mengalami hal-hal berikut:

Panik
Marah
Meledak-ledak karena kehilangan posisi dominan.

4. Minim Empati Terhadap Dampak

Pelaku child grooming akan lebih fokus pada dirinya sendiri, bukan luka korban.

"Marahnya pelaku bukan tanda ia benar, tapi tanda mekanisme pertahanannya sedang runtuh," katanya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video Respons Pihak KPAI soal Memoar 'Broken Strings': Menolong Masyarakat "
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/kna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads