Di tengah kondisi serba terbatas pascabencana, Nur Asma, ibu hamil dengan usia kandungan sudah 7 bulan harus berjuang demi menyelamatkan anaknya yang sakit. Dengan kondisi hamil besar, ia mengantarkan putrinya berusia 3 tahun ke RSUD Aceh Tamiang, memakai motor. Butuh waktu satu jam dari tempat tinggalnya saat ini, untuk sampai ke fasilitas kesehatan.
Sesampai di RS, Nur Asma masih harus mengantre dengan perkiraan waktu satu jam sampai kemudian mendapatkan pelayanan.
Anak Nur Asma mengalami masalah gizi dan sudah tiga hari ke belakang sakit pada salah satu matanya tak kunjung reda. Mata si anak tampak memerah diduga karena infeksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nur Asma tinggal di kawasan Pematang Jaya, Sudajaya Hilir. Di wilayah itu, fasilitas kesehatan terdekat sudah tidak lagi berfungsi pascabencana. Rumah mereka hancur, dan kini mereka tinggal dalam kondisi seadanya. Bahkan, kamar mandi dibuat darurat dari bekas kayu dan material apapun yang tersisa.
Ironisnya, karena rumah Nur dari luar tampak tak terlalu banyak kerusakan, ia hanya menerima satu kali bantuan pasca bencana terjadi.
Padahal, kondisi ekonomi diakuinya benar-benar terpuruk. Nur Asma dan suaminya, sama-sama kehilangan pekerjaan. Mereka tidak lagi memiliki sumber penghasilan tetap, dan tak tahu harus menggantungkan hidup dari mana.
Dalam satu rumah kecilnya, tinggal 10 orang, bersama anak-anak, nenek, kakek, dan saudara lain.
"Sebelum musibah, kebutuhan makan bisa sampai 10 kilo beras untuk beberapa minggu. Sekarang, kami cuma bisa simpan 1 kilo beras saja untuk semua," cerita dia saat ditemui detikcom di RSUD Aceh Tamiang, Rabu (14/1/2026).
Untuk bertahan hidup, Nur Asma mengandalkan apa pun yang masih tumbuh di sekitar rumah. Genjer dan tumbuhan liar lain menjadi satu-satunya sumber makanan, diolah seadanya dari sisa pekarangan yang masih bisa dimanfaatkan.
Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan anak mereka yang kini mengalami krisis gizi. Terlebih, Nur Asma sendiri sebagai ibu hamil, juga belum mendapatkan bantuan apapun untuk pemenuhan gizinya.
Padahal, saat pemeriksaan awal kehamilan, kadar hemoglobin (Hb) Nur Asma sudah terpantau rendah, sebuah kondisi yang berisiko bagi ibu dan janin, termasuk bayi lahir prematur, ibu lemas, hingga komplikasi kehamilan.
Kini, Nur Asma hanya bisa berharap ada bantuan nyata yang benar-benar sampai.
"Saya berharap bisa dapat perlengkapan bayi untuk persiapan melahirkan, perlengkapan sekolah untuk anak-anak, juga bantuan bahan makanan. Yang paling penting, semoga suami saya bisa dapat kerja lagi supaya kami bisa bertahan hidup sendiri," ujar Nur Asma.
Simak Video "Video: Efek Buruk Jika Anak di Lokasi Bencana Terus Makan Mi Instan"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)











































