Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar berbicara soal risiko medis toksin cereulide yang diduga ada dalam produk susu formula Nestle. Taruna Ikrar menjelaskan cereulide merupakan toksin yang tahan panas, sehingga tak bisa dinonaktifkan melalui proses pemanasan atau penyeduhan.
Menurutnya ini sangat berisiko, terlebih susu formula yang terdampak diperuntukkan untuk bayi usia 0-6 bulan. Salah satu gejala medis yang dapat muncul dan berbahaya adalah muntah-muntah.
"Dia gejalanya biasanya muntah-muntah, terus kedua bisa menimbulkan bayi itu tidak mau minum lagi, padahal kan dia sangat membutuhkan. Kemudian ada gejala neurologisnya, misalnya anak itu kayak kurang sadar," jelas Taruna ketika ditemui awak media di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Kamis (15/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian ada gejala lain diare. Sampai sekarang gejala-gejala ini belum ada laporan," sambungnya.
Taruna mengimbau orang tua untuk melapor ke BPOM RI melalui HaloBPOM di 1500533 apabila anak yang mengonsumsi produk terdampak, mengalami gejala yang disebutkan.
Adapun produk yang terdampak berlaku secara spesifik, tidak pada semua Nestle. Produk yang dimaksud adalah S-26 Promil Gold pHPro 1 (Formula bayi usia 0-6 bulan), nomor izin edar 562209063696, dengan nomor bets 51530017C2 dan 51540017A1.
Berdasarkan hasil pengujian pada bets tersebut, ditemukan toksin cereulide berstatus nihil. Namun, demi kehati-hatian, pihak BPOM telah memerintahkan Nestle untuk menghentikan distribusi produk terdampak. Pihak Nestle juga sudah secara sukarela menarik produk tersebut.
"Karena ini produk untuk bayi tentu kita sangat perlu berhati-hati. Lebih bagus mencegah sebelum terjadi daripada sudah terjadi keracunan karena bisa fatal," tandasnya.
(avk/kna)











































