Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI resmi melakukan kerjasama dengan Health Science Authority (HSA) Singapura dalam pengawasan obat dan makanan. Kerjasama tersebut tertuang dalam penandatanganan memorandum of understanding (MoU) yang dilakukan kedua belah pihak.
Isi MoU tersebut meliputi pertukaran pengalaman dan praktik, pertukaran informasi yang berkaitan dengan penetapan standar, dan penguatan regulasi uji klinik.
"Kita akan membuat polar baru di dunia. Polar Eropa, Amerika dan polar Asia. Itu kunci pertama. Kita mau bangun reputasi pengawasan obat dan makanan itu bukan hanya di utara, tapi di selatan juga ada, dan itu pusatnya di Indonesia dan Singapura," ungkap Ikrar ketika ditemui awak media di Kantor BPOM RI, Jakarta Pusat, Kamis (15/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesepakatan juga meliputi peningkatan kapasitas pengawasan obat dan produk kesehatan, pelatihan sumber daya manusia, partisipasi bersama dalam program regulasi internasional dan regional, serta sebagai inisiatif strategis bersama terkait integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam pengawasan produk obat.
Melalui kerjasama ini, Ikrar mengharapkan produk obat atau pangan Indonesia bisa lebih mudah masuk ke Singapura, begitu pula sebaliknya. Apabila 'jembatan' administrasi berkurang, maka produk-produk yang ada juga lebih terjangkau masyarakat.
Ikrar menambahkan MoU ini sangat penting karena adanya kerjasama dalam bidang penelitian obat. Terlebih, 90 persen bahan baku obat yang digunakan didapatkan secara impor.
"Kuncinya itu uji klinis untuk penemuan obat baru. Dan di Indonesia kita masih kecil jumlah uji klinisnya sementara kita punya potensi. Nah, dengan kerjasama ini apa yang telah terjadi uji klinis yang ada di Singapura itu bisa juga kita join. Jadi dengan demikian itu bisa meningkatkan jumlah uji klinis kita," ungkap Ikrar.
"BPOM memandang kerja sama ini tidak hanya penting bagi Indonesia dan Singapura, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem regulatori di kawasan ASEAN, khususnya dalam menghadapi tantangan inovasi teknologi kesehatan dan pengembangan produk terapi lanjut secara aman dan bertanggung jawab," tandasnya.











































