Dialami Pendaki di Gunung Slamet, Mengapa Hipotermia Bisa Picu Kematian?

Dialami Pendaki di Gunung Slamet, Mengapa Hipotermia Bisa Picu Kematian?

Shafira Junisar Triandisya - detikHealth
Sabtu, 17 Jan 2026 09:12 WIB
Dialami Pendaki di Gunung Slamet, Mengapa Hipotermia Bisa Picu Kematian?
Pendaki yang sempat hilang 17 hari di Gunung Salak, Syafiq Ali. (Foto: Eko Susanto/detikJateng)
Jakarta -

Seorang pendaki bernama Syafiq Ali Razan (18) ditemukan meninggal setelah hilang lebih dari 17 hari di Gunung Slamet. Ketua Operasi SAR Wanadri, Arie Affandi, mengungkapkan korban meninggal beberapa hari sebelum ditemukan yang diduga karena hipotermia.

"Korban mengalami hipotermia. Ia sempat melepaskan celana hingga sebatas dengkul, serta sepatu dan kaus kaki. Ceceran perlengkapan itu ditemukan di sekitar lokasi," tambahnya dalam rekaman video yang diterima detikJateng.

Alasan di Balik Kematian Akibat Hipotermia

Diwawancara pada waktu terpisah, dokter emergency dari Perhimpunan Dokter Emergency Indonesia, dr Wisnu Pramudito D Pusponegoro, SpB, menjelaskan hipotermia terjadi saat suhu tubuh menurun lebih rendah dari normal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini yang dapat mengganggu metabolisme tubuh, yang memang bertugas memastikan suhu tubuh dalam kondisi stabil.

ADVERTISEMENT

"Jadi, apabila suhu tubuh kurang dari 36 derajat Celsius, lalu tubuh ke 34 derajat Celsius, itu akan menyebabkan gangguan pada metabolisme," kata dr Wisnu pada detikcom, Sabtu (17/1/2026).

"Dan apabila sangat berat kondisinya, di mana suhu tubuh sangat rendah, maka metabolisme akan berhenti dan itu yang dapat menyebabkan kematian," sambungnya.

Berapa Lama Seseorang Bisa Bertahan Dalam Kondisi Hipotermia?

Menurut dr Wisnu, kondisi tersebut dipengaruhi beberapa hal. Pertama adalah suhu lingkungan di mana orang tersebut berada, misalnya seperti di negara yang memiliki empat musim.

Terutama saat turun salju, yang membuat suhu lingkungan bisa turun sampai 0 (nol) derajat Celsius. Akibatnya, suhu tubuh akan menghilang dan mengalami hipotermia.

"Ini tergantung pada suhu di dalam tubuh kita, yang dipertahankan oleh metabolisme. Dan proses metabolisme terjadi karena pembakaran energi yang menimbulkan panas," jelas dr Wisnu.

"Jadi kalau misalkan tubuh korban dalam kondisi dehidrasi atau kekurangan cairan, itu juga akan mempercepat terjadinya hipotermia," tambahnya.

Kemudian kalau pakaian korban dalam keadaan basah. Hal ini akan sangat memperberat kondisi kesehatan korban.

Misalnya, bajunya basah, kemudian korban mengalami dehidrasi dan kekurangan energi, misalnya dia tidak makan, itu akan memperberat kondisinya. Maka dari itu, satu hal yang dibutuhkan agar bisa bertahan di suhu yang rendah adalah dengan memastikan baju tetap kering.

"Sehingga ini yang tidak bisa kita tentukan berapa lamanya (orang akan bertahan pada kondisi hipotermia)," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Wamenkes: Kematian Akibat TBC di RI Lebih Banyak dari Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads