Seorang pendaki bernama Syafiq Ali Razan ditemukan meninggal setelah dinyatakan hilang lebih dari 17 hari. Belakangan, jenazah Syafiq Ali ditemukan Tim SAR, dugaan sementara dirinya mengalami hipotermia sebelum meninggal.
Mengapa Hipotermia Masuk Kondisi Darurat?
Dokter emergency dari Perhimpunan Dokter Emergency Indonesia, dr Wisnu Pramudito D Pusponegoro, SpB mengatakan hipotermia merupakan kondisi ekstrem yakni suhu tubuh seseorang menurun hingga berada di bawah normal.
Sebagai informasi, dr Wisnu tidak terlibat dalam penanganan kasus Syafiq Ali dan dihubungi pada waktu terpisah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu akan menyebabkan gangguan, terutama pada metabolisme kita seperti 'contohnya Anda punya mobil, kemudian dia lama nggak dipanasin, artinya suhu mesinya rendah, maka kinerja mesin berkurang' sama seperti pada tubuh kita," kata dr Wisnu saat dihubungi detikcom, Sabtu (17/1/2026).
Jika suhu tubuh seseorang menurun hingga 34 derajat Celsius, maka ini akan menyebabkan adanya gangguan di metabolisme.
"Dan apabila sangat berat kondisinya, di mana suhu tubuh sangat rendah, maka metabolisme akan berhenti dan itu yang dapat menyebabkan kematian," kata dr Wisnu.
Berapa Lama Seseorang Bisa Bertahan?
Menurut dr Wisnu, kondisi tersebut dipengaruhi beberapa hal seperti suhu lingkungan. Kondisi bisa diperparah saat seseorang berada di lingkungan yang dingin ekstrem seperti saat turun salju.
"Ini tergantung pada suhu di dalam tubuh kita, yang dipertahankan oleh metabolisme. Dan proses metabolisme terjadi karena pembakaran energi yang menimbulkan panas," jelas dr Wisnu.
"Jadi kalau misalkan tubuh korban dalam kondisi dehidrasi atau kekurangan cairan, itu juga akan mempercepat terjadinya hipotermia," tambahnya.
Pakaian basah juga bisa menjadi 'bencana'. Pasalnya, ini dapat membuat seseorang bisa lebih cepat mengalami hipotermia.
"Kondisinya akan saling memperberat. Misalnya bajunya basah, dia mengalami dehidrasi, dan dia kekurangan energi misal tidak makan. Nah itu akan memperberat kondisi dari pasien, ehingga ini yang tidak bisa kita tentukan berapa lamanya," katanya.
Saat menemukan pasien hipotermia, penting untuk dilakukan adalah memastikan mereka mendapatkan lingkungan yang hangat. Bisa dengan mengganti baju dengan yang kering.
Hipotermia Tidak Hanya Terjadi di Gunung
Banyak orang yang menganggap bahwa hipotermia di Indonesia hanya mungkin terjadi saat seseorang mendaki gunung. Anggapan ini lahir karena Indonesia sendiri merupakan negara tropis.
Padahal, menurut dr Wisnu hipotermia bisa terjadi di tempat-tempat yang bahkan tidak pernah diwaspadai, termasuk di Intalasi Gawat Darurat (IGD).
"IGD kita sebagian besar menggunakan pendingin ruangan, ini yang menyebabkan pasiennya kedinginan," katanya.
Biasanya yang berisiko menurut dr Wisnu adalah pasien yang datang dengan energi tipis, kekurangan cairan, atau pendarahan.
"Pasien juga seringkali diberikan cairan yang tidak dihangatkan. Akibatnya adalah kita memasukkan cairan ke dalam tubuh korban dengan cairan yang dingin, otomatis suhu tubuh korban akan turun dan itu menyebabkan hipotermia," katanya.
Penolongan Pertama Korban Hipotermia di Gunung
dr Wisnu membagikan tips untuk membantu korban yang mengalami hipotermia di gunung agar tidak berujung fatal.
"Pertama membuka pakaian yang basah. Kemudian ganti dengan pakaian kering. Kedua apabila pasien sadar, bisa diberika minuman atau makanan hangat supaya tubuhnya memiliki energi untuk metabolisme," katanya.
"Ketiga, harus dipastikan pasien tidak mengalami dehidrasi. Apabila pasien tidak sadar harus segera dibawa turun untuk mendapatkan tindakan medis lebih lanjut," sambungnya.
dr Wisnu juga berpesan untuk para pendaki benar-benar mempersiapkan diri, baik fisik, mental, dan perbekalan. Selain itu perbekalan ilmu juga perlu diperbanyak, agar meminimalisir risiko-risiko yang bisa terjadi saat pendakian.
Simak Video "Video: Pertolongan Pertama Jika Hirup Bau Gas Menyengat"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)











































