Pilu, Bayi-bayi Baru Lahir di Gaza Meninggal Kedinginan karena Hipotermia

Pilu, Bayi-bayi Baru Lahir di Gaza Meninggal Kedinginan karena Hipotermia

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Senin, 19 Jan 2026 14:10 WIB
Pilu, Bayi-bayi Baru Lahir di Gaza Meninggal Kedinginan karena Hipotermia
Kondisi pilu bayi-bayi di Gaza. (Foto: REUTERS/Mahmoud Issa)
Jakarta -

Seorang bayi perempuan berusia 27 hari dilaporkan meninggal dunia akibat suhu dingin ekstrem pada Sabtu (17/1/2026) di Gaza. Bayi bernama Aisha Ayesh al-Agha tersebut menjadi korban ke delapan dari kalangan anak-anak yang meninggal akibat hipotermia sejak musim dingin dimulai.

Pihak Rumah Sakit Nasser di Khan Younis mengonfirmasi bahwa Aisha dibawa dalam kondisi yang sudah terlambat untuk diselamatkan.

"Bayi tersebut meninggal akibat suhu yang membeku," lapor kementerian kesehatan Palestina melalui kantor berita Anadolu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kematian Aisha hanyalah puncak gunung es dari krisis kesehatan ibu dan anak yang melanda Gaza. Berdasarkan laporan Physicians for Human Rights, perang telah menghancurkan sistem perawatan neonatal.

Data antara Januari hingga Juni 2025 menunjukkan angka kematian ibu dan anak yang memilukan, yakni:

ADVERTISEMENT
  • 2.600 kasus keguguran.
  • 1.460 kelahiran prematur.
  • 2.500 bayi membutuhkan perawatan intensif (NICU).

Penurunan angka kelahiran hingga 41 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2022.

Para ibu di Gaza terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian yang penuh sesak tanpa fasilitas penghangat, pasokan medis yang diblokir, dan kekurangan bahan bakar yang kronis.

Ancaman Badai dan Hipotermia

Selain Aisha, seorang bayi berusia satu tahun juga dilaporkan meninggal dunia akibat hipotermia pada Selasa lalu. Cuaca ekstrem berupa angin kencang dan badai musim dingin memperparah penderitaan para pengungsi.

Dinding-dinding bangunan yang rapuh dilaporkan roboh menimpa tenda-tenda pengungsi, menewaskan sedikitnya empat orang. Juru bicara Unicef, James Elder, menyatakan bahwa meskipun gencatan senjata telah dimulai sejak Oktober, lebih dari 100 anak telah tewas di wilayah tersebut akibat berbagai komplikasi dari konflik dan bencana alam yang menyertai.

Meskipun serangan udara dan baku tembak telah berkurang, kondisi kehidupan di Gaza tetap berada di titik nadir. Badai baru-baru ini menyebabkan banjir besar di kamp-kamp pengungsian, membuat kelangsungan hidup bayi dan anak-anak semakin terancam.

Halaman 2 dari 2
(kna/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads