Pernah merasa hasil pembacaan kartu tarot benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata? Bagi banyak Generasi Z, momen ini sering kali dianggap sebagai bukti kekuatan magis kartu tersebut. Namun, dalam kacamata psikologi, fenomena ini memiliki penjelasan ilmiah yang disebut sebagai self-fulfilling prophecy atau ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri.
Psikolog Klinis UNAIR, Dian Kartika Amelia Arbi, M.Psi., menjelaskan bahwa ramalan menjadi nyata bukan karena kartu tersebut memiliki kemampuan prediksi masa depan yang absolut. Sebaliknya, hal itu terjadi karena mekanisme pikiran manusia.
"Bukan ramalan atau prediksi itu yang memang nyata terjadi. Tapi memang karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada perilaku yang kita prediksi sebelumnya," ungkap Dian dikutip dari laman UNAIR.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara psikologis, ketika seseorang menerima narasi tentang masa depannya, otak cenderung melakukan penyaringan informasi (atensi selektif) yang hanya mendukung ramalan tersebut. Jika tarot menyebutkan akan bertemu orang baru yang penting, seseorang mungkin akan menjadi lebih ramah dan terbuka saat bertemu orang asing, sehingga "ramalan" itu pun terwujud berkat perubahan perilaku sendiri.
Eksploitasi 'Barnum Effect' dalam Tarot
Selain self-fulfilling prophecy, fenomena tarot juga sering bersinggungan dengan Barnum Effect. Istilah psikologi ini merujuk pada kecenderungan orang untuk percaya bahwa deskripsi kepribadian yang sangat umum dan samar sebenarnya ditujukan khusus untuk mereka.
Psikoloterapi Natacha Duke di laman Cleveland Clinic menggambarkan 'barnum effect' sebagai kecenderungan seseorang untuk menerima pernyataan dan deskripsi kepribadian yang sangat umum atau samar seolah-olah pernyataan tersebut unik dan berlaku bagi kita. Ini adalah bentuk bias kognitif, atau cara berpikir yang memperkuat keyakinan internal kita sendiri dengan mengorbankan logika dan pendekatan yang tidak bias terhadap suatu situasi.
"Secara umum, sebagai manusia, kita ingin memvalidasi perspektif dan pendapat kita sendiri, jadi kita lebih cenderung mendengarkan dan menyerap pernyataan positif tentang diri kita sendiri daripada pernyataan negatif," jelas Duke. "Itulah cara kerja efek Barnum. Biasanya pernyataan netral atau positif yang kita terima dan kita lebih cenderung mempercayainya."
Penelitian menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar untuk mencari kejelasan di tengah ketidakpastian. Gen Z menggunakan tarot sebagai cara mencari penjelasan eksternal saat merasa tidak berdaya menghadapi situasi yang tidak enak. Narasi yang menenangkan dan tanpa penghakiman (judgement) dari tarot memberikan ilusi kontrol atas masa depan.
Tarot Bukan untuk Semua Orang
Berbicara kepada Women's Health, neuroscience Eldin Hasa mengatakan tarot bukan untuk semua orang. Bagi orang mencari terapi karena penyakit mental dan trauma tertentu, Tarot mungkin bukan alternatif yang tepat, terutama karena tidak banyak penelitian tentang potensi terapeutiknya.
"Meskipun mungkin menawarkan potensi untuk refleksi diri dan mendapatkan perspektif baru, kartu tarot kurang memiliki dasar ilmiah, panduan profesional, dan bukti empiris untuk dianggap sebagai alternatif terapi,' ucap Hasa.
Selain itu, karena banyak pembaca Tarot tidak memiliki kualifikasi atau pelatihan, hal itu membuka lebih banyak ruang untuk potensi malpraktik.
"Pembacaan Tarot sangat bergantung pada interpretasi, sehingga rentan terhadap bias dan salah tafsir," tandas Hasa.
Simak Video "Teruntuk Gen Z, Ini Caranya Biar Nggak Dicap Generasi Lembek"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)











































