Memilih Dot Botol Susu Bayi Tak Bisa Sembarangan, Ini Dampaknya pada Gigi Anak

Memilih Dot Botol Susu Bayi Tak Bisa Sembarangan, Ini Dampaknya pada Gigi Anak

detikHealth
Rabu, 21 Jan 2026 16:10 WIB
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Ditulis oleh:
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Sarjana peternakan dari IPB University dengan peminatan pada nutrition and feed technology. Saat ini merupakan peserta program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan, sebagai penulis artikel gaya hidup
Memilih Dot Botol Susu Bayi Tak Bisa Sembarangan, Ini Dampaknya pada Gigi Anak
Dot orthodontik
Jakarta -

Bagi banyak orang tua, dot botol susu sering dianggap sekadar pelengkap saat memberi ASI atau susu formula. Selama bayi mau minum dan terlihat nyaman, bentuk dot kerap luput dari perhatian.

Padahal, dot bayi untuk minum susu bukan hanya soal aliran cairan. Bentuk, ukuran, dan desain dot berperan dalam cara bayi mengisap, posisi lidah, serta tekanan pada rahang dan gusi yang masih berkembang.

Karena itu, pemilihan dot botol susu tidak bisa dilakukan sembarangan, terutama bila digunakan dalam jangka panjang. Untuk memahami alasannya, penting melihat bagaimana bentuk dot memengaruhi cara bayi mengisap serta dampaknya terhadap perkembangan mulut bayi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peran Dot Botol Susu dalam Pola Isap dan Perkembangan Mulut Bayi

Cara bayi mengisap saat minum sangat dipengaruhi oleh jenis dot botol susu yang digunakan. Saat menyusu langsung dari ibu, bayi perlu mengoordinasikan lidah, rahang, dan otot mulut untuk mengeluarkan ASI. Proses ini membantu melatih fungsi oral, yaitu kemampuan mulut dan otot-ototnya dalam mengisap dan menelan secara alami.

Namun, ketika minum melalui botol, peran dot menjadi sangat penting karena bentuk dan aliran susu akan menentukan seberapa aktif bayi mengisap.

ADVERTISEMENT

Dot dengan aliran susu yang terlalu deras dapat membuat bayi cenderung pasif. Bayi tidak perlu mengisap kuat karena susu mengalir dengan mudah.

"Dot pada umumnya memiliki lubang di ujung sehingga bayi itu menjadi malas untuk menghisap, karena air susu itu masuk/ditembak langsung ke tenggorokan," jelas drg. Aliyah, dokter gigi spesialis anak.

Dalam jangka panjang, pola isap yang pasif ini berpotensi memengaruhi kekuatan otot mulut serta koordinasi antara rahang dan lidah.

Selain memengaruhi pola isap, bentuk dot botol susu juga berperan terhadap tekanan yang diterima mulut bayi.

Dot yang tidak sesuai dengan anatomi mulut dapat memberikan tekanan berulang pada langit-langit mulut dan gusi. Mengingat jaringan mulut dan rahang bayi masih sangat lunak, tekanan yang tidak seimbang ini berpotensi memengaruhi arah pertumbuhan rahang.

Menurut drg. Aliyah, penggunaan dot yang tidak tepat dapat menyebabkan pergeseran gigi dan rahang (maloklusi), salah satunya berupa gigi tonggos.

Sayangnya, dampak dari kebiasaan ini sering kali tidak langsung terlihat, tetapi baru tampak saat gigi susu mulai tumbuh atau anak memasuki usia balita. Karena efeknya muncul secara bertahap, pemilihan dot botol susu pun kerap luput dari perhatian orang tua.

Padahal, dot yang digunakan sehari-hari memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang fungsi mulut bayi sejak dini.

Untuk meminimalkan risiko tersebut, desain dot botol susu menjadi aspek yang perlu diperhatikan. Salah satu pilihan yang banyak direkomendasikan adalah dot orthodontic.

Dot Orthodontic dan Manfaatnya bagi Perkembangan Mulut Bayi

Dot orthodontic adalah dot yang dirancang mengikuti anatomi alami mulut bayi. Bentuknya dibuat menyesuaikan kontur mulut, sehingga memberi ruang gerak yang lebih alami bagi lidah sekaligus mengikuti lengkung langit-langit mulut.

Desain ini bertujuan mengurangi tekanan berlebih pada struktur mulut dan membantu menjaga posisi rahang tetap lebih fisiologis saat bayi mengisap.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa dot dengan desain orthodontic berpotensi memberikan distribusi tekanan yang lebih ringan dibandingkan dot konvensional, sehingga dianggap lebih ramah bagi perkembangan rahang dan susunan gigi bayi.

Selain aspek struktur mulut, desain dot orthodontic juga berperan dalam mengatur aliran susu saat bayi minum dari botol. Mekanisme inilah yang dinilai dapat mendukung proses minum yang lebih terkontrol.

Hal tersebut dijelaskan oleh drg. Aliyah, yang menekankan bahwa posisi lubang dot menjadi salah satu faktor penting.

"Sebenarnya yang harus ditekankan adalah mencegah bayi tersedak dan kolik. Dot orthodontic itu posisi lubangnya berada di tengah, bukan di ujung, harus menekan ke langit-langit mulut sehingga ada proses penekanan atau hisapan dan mencegah terjadinya air susu itu masuk seperti ditembak langsung ke tenggorokan." jelasnya.
Ia menambahkan bahwa mekanisme aliran dalam penggunaan dot orthodontic membuat susu tidak langsung masuk ke tenggorokan.

"Jadi masuknya ke atas dulu, mengalir ke dalam tenggorokan itu yang mencegah terjadinya kolik. Itu penting sih sebenarnya."

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa dot orthodontic bukan berarti bebas risiko. Manfaatnya sangat bergantung pada cara penggunaan, pemilihan ukuran yang sesuai usia, serta durasi pemakaian yang tidak berlebihan.

Batas Usia Penggunaan Dot yang Dianjurkan

Pada bayi usia 0-6 bulan, penggunaan dot botol susu umumnya masih dianggap aman, terutama ketika bayi menerima ASI atau susu formula. Pada fase ini, refleks mengisap masih dominan dan gigi belum tumbuh, sehingga risiko gangguan pada struktur gigi relatif rendah.

Memasuki usia 6-12 bulan, orang tua disarankan untuk mulai lebih memperhatikan durasi penggunaan botol. Pada tahap ini, perkembangan rahang dan mulut berlangsung lebih aktif, sehingga kebiasaan minum botol dalam waktu lama sebaiknya mulai dibatasi.

Di atas usia 12 bulan, penggunaan dot botol susu dianjurkan untuk dikurangi secara bertahap, seiring dengan pengenalan minum menggunakan gelas atau training cup. Penggunaan botol yang berlanjut terlalu lama, terutama hingga usia di atas dua tahun, dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan oklusi.
Hal ini juga ditegaskan oleh drg. Aliyah, Sp.KGA.

"Benar, karena proses menyusui sendiri itu kan sampai usia 2 tahun. Baik air susu ibu, ASI secara langsung maupun dengan bantuan. Nah sebaiknya setelah 2 tahun kita hentikan, kita berganti menjadi proses makan saja."

Transisi dari Botol ke Gelas, Perlu Bertahap

Menghentikan penggunaan dot botol susu sebaiknya dilakukan secara perlahan. Pendekatan bertahap memberi anak waktu beradaptasi dengan cara minum baru tanpa menimbulkan stres berlebihan. Orang tua dapat memulai dengan membatasi penggunaan botol hanya pada waktu tertentu, misalnya saat malam hari, lalu secara perlahan menggantinya dengan gelas.

Pendekatan yang konsisten dan tidak memaksa membantu anak mengembangkan keterampilan oral yang lebih matang, sekaligus mendukung perkembangan rahang dan gigi yang lebih optimal.

Dot botol susu bukan sekadar alat bantu minum, melainkan bagian dari proses tumbuh kembang fungsi mulut bayi. Bentuk, desain, serta durasi penggunaannya dapat memengaruhi pola isap, posisi rahang, dan perkembangan susunan gigi anak.

Dengan memilih dot botol susu yang dirancang lebih ramah secara anatomi, seperti dot orthodontic, memperhatikan aliran susu, serta membatasi penggunaannya sesuai usia, orang tua dapat membantu melindungi kesehatan mulut, rahang, dan gigi anak sejak dini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Saran Pakar soal Pemberian Susu Formula untuk Bayi Korban Bencana"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads