WHO Soroti Harga Minuman Manis Murah, Warga Dunia Makin Rentan Kena Diabetes-Kanker

WHO Soroti Harga Minuman Manis Murah, Warga Dunia Makin Rentan Kena Diabetes-Kanker

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Sabtu, 24 Jan 2026 10:20 WIB
WHO Soroti Harga Minuman Manis Murah, Warga Dunia Makin Rentan Kena Diabetes-Kanker
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/SB Arts Media
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan peringatan keras terkait harga minuman berpemanis dan alkohol yang kian terjangkau di berbagai negara. Rendahnya tarif pajak dinilai menjadi pemicu lonjakan kasus obesitas, diabetes, jantung, hingga kanker, terutama yang menyasar anak-anak dan remaja.

Dalam laporan terbaru yang dirilis Selasa (13/1/2026), WHO mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk segera memperkuat sistem pajak kesehatan. Langkah ini dianggap darurat karena sistem kesehatan global kini tercekik beban finansial akibat penyakit tidak menular yang sebenarnya bisa dicegah.

"Pajak kesehatan merupakan salah satu alat terkuat yang kita miliki untuk mempromosikan kesehatan dan mencegah penyakit," tegas Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari laman resmi WHO.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan meningkatkan pajak atas produk seperti tembakau, minuman manis, dan alkohol, pemerintah dapat mengurangi konsumsi yang berbahaya serta membuka sumber pendanaan bagi layanan kesehatan yang vital," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Lolosnya Produk Tinggi Gula Lainnya

Data WHO membeberkan ketimpangan yang serius. Meski 116 negara sudah menerapkan pajak untuk minuman bersoda, produk tinggi gula lainnya seperti jus buah kemasan, susu berpemanis, hingga kopi siap minum, lolos dari pajak.

Hal serupa juga terjadi pada minuma alkohol. Setidaknya 167 negara, harga alkohol justru makin murah atau stagnan sejak 2022, karena nilai pajaknya kalah jauh dibanding laju inflasi.

Bahkan, 25 negara di Eropa sama sekali tidak mengenakan pajak pada minuman anggur (wine). Dr Etienne Krug, Direktur Departemen Determinan Kesehatan WHO, menyoroti dampak nyata dari murahnya harga minuman keras.

"Alkohol yang lebih terjangkau mendorong kekerasan, cedera, dan penyakit. Sementara industri meraup keuntungan, masyarakat sering menanggung konsekuensi kesehatan dan biaya ekonomi," jelasnya.

Sebagai solusi, WHO meluncurkan inisiatif '3 by 35'. Program ini menargetkan kenaikan harga riil untuk tembakau, alkohol, dan minuman manis secara signifikan pada tahun 2035, demi melindungi kesehatan publik secara global.




(sao/kna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads