Selebgram Lula Lahfah Meninggal, Psikiater Ingatkan Tak Sebar Foto Sembarangan

Round Up

Selebgram Lula Lahfah Meninggal, Psikiater Ingatkan Tak Sebar Foto Sembarangan

Elmy Tasya Khairally - detikHealth
Minggu, 25 Jan 2026 06:02 WIB
Selebgram Lula Lahfah Meninggal, Psikiater Ingatkan Tak Sebar Foto Sembarangan
Foto: Selebgram Lula Lahfah (dok Instagram lulalahfah)
Jakarta -

Selebgram Lula Lahfah meninggal dunia di apartemennya. Menurut keterangan polisi, Lula ditemukan setelah asisten rumah tangganya (ART) melapor dirinya tidak bisa dihubungi.

Setelah kabar meninggal Lula Lahfah tersebar, fotonya yang tengah terbaring di apartemen dengan narasi ditemukan tak bernyawa ikut ramai di media sosial. Beberapa orang kemudian 'latah' untuk ikut menyebarkan foto tersebut. Padahal, terlepas dari kebenaran foto tersebut penyebaran konten seperti itu bisa memicu dampak psikologis yang serius.

Menurut psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, tindakan ini dapat memicu trauma sekunder yang bisa berdampak pada keluhan fisik. Karena itu, hal tersebut tidak dibenarkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Melihat gambar jenazah, terutama yang meninggal secara mendadak atau tragis, dapat memicu kaget berlebihan, mual, pusing, sulit tidur, bayangan berulang," sebut dr Lahargo, saat dihubungi detikcom Sabtu (24/1/2026).

ADVERTISEMENT

dr Lahargo mengatakan, hal ini bahkan bisa terjadi pada orang yang secara pribadi tidak begitu dekat dengan yang bersangkutan. Menurutnya, otak tidak bisa membedakan trauma yang dialami langsung atau dilihat berulang lewat layar.

Risiko yang lebih besar bisa dialami oleh orang-orang dengan riwayat depresi, trauma, hingga pernah ingin bunuh diri. Kondisi itu bisa kambuh saat melihat foto korban yang tersebar luas di media sosial.

Paparan berulang terhadap kematian yang divisualisasikan secara detail di media sosial terus terjadi. Hal tersebut terjadi karena seseorang bisa menjadi pelaku 'copycat' yang otomatis meniru untuk ikut menyebarkan foto yang bersangkutan.

"Sehingga berisiko menganggap menormalkan kematian tragis, dan pada kelompok rentan dapat meningkatkan perilaku meniru. Ini sudah lama dikenal dalam dunia psikiatri dan komunikasi kesehatan," jelasnya.

Penyebaran Foto Bisa Jadi Luka Psikologis Bagi Keluarga

Penyebaran foto semacam ini juga bisa menimbulkan luka psikologis yang mendalam bagi keluarga korban.

"Bayangkan duka keluarga yang belum pulih, lalu harus melihat ulang kematian orang tercinta, sekaligus menghadapi komentar, spekulasi, dan penyebaran foto di ruang publik. Ini bisa memperpanjang proses berduka dan memicu complicated grief," ujar dr Lahargo saat dihubungi detikcom.

Complicated grief adalah kondisi duka yang berlangsung lebih lama, lebih berat, dan lebih mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari dibandingkan dengan proses berduka pada umumnya. Paparan berulang terhadap gambar atau narasi kematian terkait orang tercinta dapat memperparah kondisi tersebut.

dr Lahargo juga mengingatkan etika bermedia sosial, khususnya ketika menghadapi kabar duka. Tak semua hal pantas dibagikan.

"Empati lebih penting daripada rasa ingin tahu. Klik dan share yang kita lakukan dapat memberikan dampak psikologis nyata bagi orang lain," tegasnya.

Apabila ingin menunjukkan kepedulian, cukup doakan dan hentikan penyebaran konten sensiitif.

"Kalau ingin peduli, cukup doakan. Kalau ingin berempati, hentikan penyebaran. Berita boleh cepat, tapi empati jangan tertinggal. Menahan jempol kadang lebih menyelamatkan daripada menekan tombol share," kata dr Lahargo.




(elk/naf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads