Zat besi dan docosahexaenoic acid (DHA) merupakan dua mikronutrien esensial yang berperan penting dalam proses tumbuh kembang anak, terutama dalam mendukung perkembangan otak dan sistem saraf.
Pada periode awal kehidupan, termasuk masa kehamilan hingga dua tahun pertama (1.000 hari pertama kehidupan), kebutuhan zat besi dan DHA meningkat seiring pesatnya pertumbuhan dan pematangan jaringan otak. Oleh karena itu, pemenuhan kedua nutrisi ini menjadi aspek krusial dalam upaya mengoptimalkan perkembangan anak secara berkelanjutan dan jangka panjang.
Apa Itu Zat Besi dan Manfaatnya?
Dikutip dari The US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), zat besi merupakan mineral dengan banyak fungsi penting. Zat besi berperan dalam pembentukan sel otot dan sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, zat besi juga mendukung perkembangan otak serta fungsi sistem kekebalan tubuh. Secara keseluruhan, zat besi membantu kemampuan anak untuk tumbuh, berkonsentrasi, dan belajar dengan baik. Asupan zat besi yang cukup dapat membantu mencegah terjadinya defisiensi zat besi maupun anemia defisiensi besi.
Adapun perkembangan otak dimulai saat setelah terjadinya konsepsi sampai masa dewasa muda. Seribu hari pertama kehidupan dimulai sejak dalam kandungan hingga anak mencapai usia 2 tahun. Masa ini merupakan periode emas pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama otak dan sistem kekebalan. Tidak optimalnya perkembangan otak pada masa ini akan mempengaruhi kehidupan anak di masa depan.
Spesialis anak dr Wisvici Yosua Yasmin, M.Sc, SpA, beberapa waktu lalu mengatakan pembentukan otak anak sudah terjadi saat anak masih di dalam kandungan atau janin. Otak merupakan organ yang disusun oleh jaringan-jaringan saraf. Volume jaringan saraf tersebut terbentuk secara cepat di masa dalam rahim.
"Jadi kita bilang dalam trimester 1 ke trimester 2, itu organnya terbentuk, rumahnya, wadahnya. Dan pemadatan sel-sel saraf itu terjadi di trimester 2 ke trimester 3. Begitu pula dengan transfer dari zat besi," katanya.
"Mangkanya dibilang adalah 1.000 hari pertama adalah window period, waktu-waktu emasnya, golden period, itu perkembangan otak si kecil," sambungnya lagi.
"Pada masa-masa itu, penting sekali untuk kebutuhan-kebutuhan nutrisi, salah satunya zat besi," lanjutnya.
Sementara itu, anak yang tidak mendapatkan asupan zat besi yang cukup, baik dari makanan kaya zat besi maupun suplemen, berisiko mengalami anemia. Anemia adalah kondisi ketika tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah atau kemampuan sel darah merah dalam membawa oksigen menurun.
Anemia memiliki berbagai penyebab. Pada anak usia dini, salah satu penyebab yang paling umum adalah kekurangan zat besi. CDC mengatakan, jika anak terus-menerus mendapatkan asupan zat besi yang tidak memadai, kondisi ini dapat berkembang menjadi anemia defisiensi besi. Bayi dan anak yang mengalami anemia defisiensi besi berisiko mengalami gangguan kemampuan belajar.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sekitar 300 juta anak di seluruh dunia mengalami anemia pada tahun 2011. Penyebab anemia yang paling umum diperkirakan adalah kekurangan zat besi.
Anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan mengalami anemia defisiensi besi karena kebutuhan zat besi yang lebih tinggi pada periode pertumbuhan cepat, terutama pada lima tahun pertama kehidupan. Anemia defisiensi besi pada anak telah dikaitkan dengan meningkatnya angka kesakitan, gangguan perkembangan kognitif, serta penurunan prestasi belajar di sekolah.
Menurut laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi mendapatkan cadangan zat besi yang cukup dari transfer zat besi pada trimester terakhir kehamilan. Air susu ibu (ASI) hanya mengandung sedikit zat besi, tetapi zat besi yang dikandung dalam ASI mudah diserap oleh saluran cerna bayi. Kedua hal tersebut menyebabkan kecukupan zat besi dapat terjamin sampai dengan mereka berusia 4-6 bulan.
Setelah usia 6 bulan, ASI saja tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan zat besi bayi dan cadangan zat besi juga sudah berkurang, maka bayi membutuhkan zat besi tambahan dari makanan pendamping ASI (MPASI).
Adapun kebutuhan zat besi bayi usia 6-12 bulan adalah 11 mg per hari, sedangkan anak berusia 1-3 tahun (batita) membutuhkan zat besi lebih sedikit, yaitu 7 mg per hari. ASI hanya memenuhi 0,3 mg zat besi per hari.
Manfaat DHA untuk Perkembangan Anak
Selain zat besi, omega 3 seperti DHA adalah nutrisi penting yang berupa asam lemak yang dibutuhkan untuk perkembangan anak. DHA adalah asam lemak omega-3 tak jenuh ganda rantai panjang atau lemak baik yang ditemukan di seluruh tubuh.
Dikutip dari BC Children's Hospital and the University of British Columbia, DHA menyusun hampir seperempat dari total asam lemak di otak dan mulai terakumulasi pada otak janin sejak trimester ketiga kehamilan, sebuah proses yang berlanjut sepanjang masa bayi.
DHA berperan penting dalam menjaga fungsi otak, retina mata, dan kulit agar tetap sehat. Kadar DHA yang cukup dalam tubuh juga diyakini dapat membantu mencegah gangguan neuropsikiatri dan neurodegeneratif.
Selain itu, DHA terlibat dalam transmisi sinyal antarneuron serta respons sel terhadap zat yang berada di permukaan maupun di luar membran sel.
Menurut laman Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, rekomendasi konsumsi DHA sebanyak 300-600 mg per hari untuk ibu hamil dan menyusui. Sementara untuk anak usia 2-4 tahun, WHO merekomendasikan asupan DHA sekitar 100-150 mg per hari.
Seorang bayi sangat membutuhkan DHA, terutama selama 6 bulan pertama kehidupannya. Bayi dapat memperoleh DHA yang dibutuhkan melalui ASI jika ibunya menjalani diet yang bergizi dan seimbang. Namun, begitu anak disapih dari ASI, ia bisa mendapatkan DHA dari MPASI dengan menu makanan.
(suc/up)











































