Seorang pria berusia 26 tahun menjadi orang pertama di dunia yang menjalani transplantasi sel punca atau stem cell penghasil sperma. Ini dilakukan dalam sebuah eksperimen medis terobosan untuk mengatasi infertilitas pria.
Pria bernama Jaiwen Hsu itu diketahui mengidap azoospermia, kondisi ketika tidak ada sperma dalam cairan semen, sehingga ia tidak dapat memiliki keturunan secara alami.
Azoospermia diperkirakan dialami sekitar satu persen pria di dunia, atau sekitar 500 dari setiap 50.000 pria, berdasarkan hasil penelitian. Kondisi ini kerap berdampak besar secara fisik dan psikologis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab azoospermia beragam, mulai dari gangguan hormon, penyumbatan saluran reproduksi, hingga faktor genetik. Bahkan, paparan panas berlebih, seperti penggunaan kursi mobil berpemanas, dapat menurunkan produksi sperma.
Dalam kasus Jaiwen, infertilitas disebabkan oleh kemoterapi yang ia jalani saat kecil untuk mengobati kanker tulang. Terapi tersebut diketahui dapat merusak sistem reproduksi.
Dalam uji klinis ini, tim dokter dari Amerika Serikat menggunakan sel punca milik Jaiwen sendiri yang telah diambil dan dibekukan sebelum ia menjalani pengobatan kanker. Sel punca penghasil sperma ini secara alami terdapat di testis sejak lahir.
Sel-sel tersebut kemudian ditanamkan kembali ke sistem reproduksinya melalui prosedur transplantasi. Tim medis dari University of Pittsburgh Medical Center menggunakan panduan ultrasonografi untuk memasukkan jarum kecil melalui pangkal skrotum menuju rete testis, bagian dari testis yang berperan dalam transportasi sperma.
Dalam uji klinis, tim dokter di Amerika Serikat menggunakan sel punca milik Jaiwen sendiri yang diambil dan dibekukan saat ia masih kecil, sebelum menjalani pengobatan kanker. Sel punca pembentuk sperma itu secara alami sudah ada di testis sejak lahir.
Sel-sel tersebut kemudian dimasukkan kembali dan ditransplantasikan ke dalam sistem reproduksi Jaiwen. Dokter dari University of Pittsburgh Medical Center (UPMC) menggunakan panduan USG untuk mengarahkan jarum kecil melalui dasar skrotum menuju rete testis, salah satu bagian penting dari testis.
Prosedur ini diharapkan dapat meniru proses alami yang terjadi saat masa pubertas. Jika transplantasi berhasil, Jaiwen diperkirakan akan mulai memproduksi sperma. Hingga kini, sperma belum terdeteksi dalam air maninya. Namun, tim medis memastikan prosedur tersebut tidak merusak jaringan testis.
Para dokter berencana memantau sampel semen Jaiwen dua kali setahun untuk melihat apakah sel sperma mulai berkembang.
"Kami tidak mengharapkan hasil yang ajaib," kata ilmuwan reproduksi Kyle Orwig, PhD, profesor di Departemen Obstetri, Ginekologi, dan Ilmu Reproduksi UP kepada Associated Press.
"Yang kami harapkan adalah transplantasi sel punca akan menghasilkan sejumlah kecil sperma dan untuk mencapai kehamilan dengan pasangannya, ia akan membutuhkan teknologi reproduksi berbantuan lanjutan, seperti IVF," tambahnya.
Sejumlah pakar menilai prosedur ini sangat menjanjikan. Dokter urologi Justin Houman dari Cedars-Sinai Medical Center mengatakan, jika teknik ini disempurnakan dan terbukti aman, transplantasi sel punca spermatogonia berpotensi menjadi metode revolusioner dalam memulihkan kesuburan pria.
Menurutnya, teknik ini sangat bermanfaat bagi penyintas kanker yang menjalani pengobatan sebelum pubertas, serta pria dengan kegagalan fungsi testis akibat faktor genetik maupun kondisi medis tertentu.
"Jika disempurnakan dan terbukti aman, transplantasi sel punca spermatogonia (SSC) dapat menjadi teknik pemulihan kesuburan yang revolusioner bagi pria yang telah kehilangan kemampuan untuk memproduksi sperma," bebernya.
"Prosedur ini sangat membantu bagi penyintas kanker yang diobati sebelum pubertas atau pria dengan kegagalan testis genetik atau yang didapat."
Uji coba pada Jaiwen menjadi yang pertama dilakukan pada manusia. Hasil awalnya dipublikasikan dalam sebuah makalah di medRxiv.
Meski begitu, para peneliti mencatat kemungkinan pemulihan kesuburan secara penuh masih belum pasti. Hal ini disebabkan jumlah sel punca yang berhasil dikumpulkan saat pasien masih anak-anak tergolong sangat sedikit.
Risiko juga tetap ada, terutama bagi penyintas kanker. Beberapa sel punca yang ditransplantasikan berpotensi membawa mutasi genetik yang dapat memicu pertumbuhan tumor baru.
"Kita perlu melanjutkan dengan hati-hati dan dengan pengawasan yang ketat. Ini adalah ilmu pengetahuan yang menjanjikan, tetapi masih tahap awal," pungkas dr Justin.











































